Site icon Viral di Media

Kredit Mobil Bekas Melonjak Saat Penjualan Mobil Baru Menurun

Pembiayaan Kendaraan Baru Mengalami Kontraksi, Sementara Pembiayaan Kendaraan Bekas Tumbuh

Pembiayaan kendaraan baru di industri multifinance mengalami kontraksi pada Mei 2025 sebesar 0,24% secara year on year (YoY) menjadi Rp234,18 triliun. Di sisi lain, pembiayaan kendaraan bekas menunjukkan pertumbuhan yang signifikan sebesar 10% YoY, mencapai Rp117,55 triliun. Perubahan ini mencerminkan pergeseran pola belanja masyarakat akibat penurunan daya beli.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (AAPI), Suwandi Wiratno, menjelaskan bahwa penurunan daya beli masyarakat tidak hanya terjadi dalam beberapa bulan terakhir, tetapi telah berlangsung cukup lama. Ia menilai bahwa kondisi ini belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan karena pengaruh global yang memengaruhi banyak negara.

Menurut Suwandi, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih lebih baik dibandingkan beberapa negara lain, situasi domestik saat ini juga tertekan oleh faktor-faktor seperti kebijakan tarif dari pemerintah AS dan kebijakan lainnya yang berdampak pada stabilitas ekonomi. Selain itu, adanya perusahaan-perusahaan yang melakukan PHK atau merumahkan karyawan turut memperparah masalah daya beli masyarakat.

Asosiasi sudah melihat upaya pemerintah dalam mengatasi pelemahan daya beli. Beberapa langkah yang dilakukan antara lain lobi-lobi pemerintah ke luar negeri untuk mencari investasi serta penerapan stimulus di sektor otomotif. Namun, Suwandi menyatakan bahwa hasil dari upaya tersebut tidak akan instan dan membutuhkan waktu untuk berdampak pada kinerja industri multifinance.

Suwandi menjelaskan bahwa ada tiga faktor utama yang diperlukan agar ekonomi dapat bergerak kembali. Pertama adalah meningkatkan daya beli masyarakat. Kedua adalah menciptakan lapangan kerja. Ketiga adalah meningkatkan belanja pemerintah melalui proyek-proyek yang dapat membuka lapangan kerja dan memacu putaran ekonomi.

Jika ketiga faktor tersebut tercapai, maka industri multifinance akan merasakan dampaknya. Jika daya beli meningkat, maka kinerja industri akan meningkat. Sebaliknya, jika daya beli menurun, maka industri akan mengalami penurunan yang lebih cepat.

Situasi ekonomi saat ini juga memengaruhi tren pembiayaan kendaraan. Suwandi menilai bahwa tren pembiayaan kendaraan bekas kemungkinan akan terus meningkat, sementara pembiayaan kendaraan baru cenderung mengalami kontraksi. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan masyarakat dalam memenuhi biaya pembelian kendaraan baru, terutama karena gaji yang tidak naik dan bonus yang tidak tersedia.

Dalam lima bulan pertama tahun 2025, pembiayaan kendaraan bermotor masih menjadi kontributor terbesar bagi total penyaluran pembiayaan industri multifinance, yaitu sebesar 76,85%. Meski pembiayaan kendaraan baru mengalami kontraksi, proporsinya masih mendominasi dibandingkan pembiayaan kendaraan bekas, yakni 44,07% dibandingkan 22,12%.

Adanya potensi pertumbuhan pembiayaan kendaraan bekas membuat setiap pemain multifinance harus menyesuaikan strategi mereka. Setiap perusahaan memiliki cara masing-masing untuk bertumbuh, termasuk dalam memilih portofolio yang sehat. Dengan demikian, risiko dan strategi yang diterapkan akan berbeda-beda sesuai dengan kebijakan masing-masing perusahaan.

Sebagai perbandingan, data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa penjualan mobil nasional masih melemah pada Juni 2025. Penjualan mobil secara wholesales pada Juni 2025 sebesar 57.760 unit, turun 22,6% secara YoY dibandingkan Juni 2024. Penjualan ritel juga mengalami penurunan sebesar 12,3% YoY menjadi 61.647 unit.

Secara keseluruhan, penjualan mobil wholesales selama Januari-Juni 2025 turun 8,6% YoY menjadi 374.740 unit, sedangkan penjualan ritel turun 9,7% menjadi 390.467 unit. Angka ini menunjukkan bahwa permintaan pasar terhadap mobil baru masih rendah, sementara permintaan terhadap kendaraan bekas semakin meningkat.

Exit mobile version