Kinerja Bank-Bank BUMN Mengalami Perlambatan
Beberapa bank pelat merah di Indonesia mengalami perlambatan dalam kinerjanya hingga Mei 2025. Hal ini menjadi peringatan dini bagi industri perbankan nasional, terutama karena ada indikasi kontraksi yang muncul dari beberapa laporan keuangan bulanan.
Kinerja Bank Mandiri (BMRI)
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. mencatatkan laba bersih sebesar Rp19,65 triliun hingga Mei 2025, nyaris stagnan dengan pertumbuhan hanya 0,13% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp19,63 triliun. Meski pendapatan bunga bersih meningkat 4,2% YoY menjadi Rp31,7 triliun, beban operasional BMRI juga membengkak dari Rp6,25 triliun menjadi Rp7,58 triliun.
Selain itu, penyaluran kredit Bank Mandiri mencapai Rp1.309,68 triliun pada bulan kelima tahun ini, tumbuh 13,63% YoY. Aset perseroan terkerek naik 9,86% YoY menjadi Rp1.922,57 triliun. Dari sisi simpanan, DPK yang dihimpun Bank Mandiri mencapai Rp1.406,84 triliun per Mei 2025, tumbuh 8,54% secara tahunan dari angka Rp1.296,11 triliun.
Kinerja Bank Rakyat Indonesia (BRI)
Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. mencatatkan penurunan laba hingga 14,87% YoY menjadi Rp18,65 triliun dari sebelumnya Rp21,9 triliun. Pendapatan bunga bersih BRI menyusut tipis 0,79% YoY menjadi Rp45,48 triliun. Beban operasional BBRI mengalami kenaikan 18,93% YoY menjadi Rp21,92 triliun.
Meski demikian, penyaluran kredit BRI masih bertumbuh positif 5,01% YoY, dari Rp1.202,49 triliun menjadi Rp1.262,72 triliun. Aset BBRI tercatat sebesar Rp1.893,38 triliun per Mei 2025, meningkat 3,14% YoY.
Kinerja Bank Negara Indonesia (BNI)
Laba PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. terkoreksi 1,34% menjadi Rp8,45 triliun dari Rp8,57 triliun. Pendapatan bunga bersih BNI tumbuh 2,96% YoY ke angka Rp15,74 triliun. Namun, beban penurunan nilai aset keuangan alias impairment meningkat 1,6% dari Rp2,81 triliun menjadi Rp2,85 triliun.
BNI telah menyalurkan kredit senilai Rp755,45 triliun per Mei 2025, tumbuh 6,57% YoY. Aset perseroan meningkat 4,99% YoY dari Rp1.039,55 triliun menjadi Rp1.091,45 triliun.
Kinerja Bank Tabungan Negara (BTN)
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) membukukan laba bersih tahun berjalan senilai Rp1,20 triliun per Mei 2025. Nilai ini meningkat 3,31% YoY. Kinerja ini dipengaruhi oleh pendapatan bunga bersih yang naik 22,86% YoY.
Meski pendapatan bunga bersih meningkat, beban operasional lainnya membengkak 31,74% menjadi Rp4,68 triliun. Beberapa pos beban yang mengalami kenaikan antara lain kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) yang menanjak 101,17% YoY menjadi Rp1,8 triliun dan beban lainnya.
Pada periode yang sama, bank spesialis perumahan ini membukukan kredit dan pembiayaan senilai Rp366,52 triliun, meningkat 5,20% YoY dari Rp348,40 triliun. Sementara, himpunan DPK tumbuh 10,25% YoY menjadi Rp397,78 triliun.
Penilaian Ahli Perbankan
Head of Research Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, menilai tekanan kinerja ini memang belum tergolong sistemik, tetapi tetap harus diwaspadai jika berlanjut dalam beberapa kuartal ke depan. Tekanan saat ini terutama datang dari membesarnya beban CKPN [cadangan kerugian penurunan nilai] yang dipicu risiko kredit baik dari faktor geopolitik eksternal maupun daya beli domestik.
Pengamat Perbankan Binus University, Doddy Ariefianto, menyebut tekanan laba BRI dan BNI lebih disebabkan oleh lonjakan biaya kredit, seperti pencadangan dan penghapusan kredit bermasalah. Sementara tekanan pada Bank Mandiri datang dari sisi lain yakni kenaikan biaya bunga.
Strategi Hadapi Tekanan Biaya Dana
Di tengah likuiditas yang makin ketat dan tren suku bunga acuan yang mulai melandai, efisiensi biaya dana menjadi perhatian utama. Strategi jangka pendek yang dapat ditempuh bank-bank BUMN adalah menjaga rasio likuiditas agar tetap dalam koridor aman. Jaga LDR [Loan to Deposit Ratio] tetap di kisaran 80–90%, dan rasio alat likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) di atas 100%. Tujuannya agar bank tidak mudah terjepit pasar uang antarbank dan terpaksa mengambil dana mahal.
Dalam jangka panjang, bank perlu mulai mendiversifikasi sumber pendanaan. Mengurangi ketergantungan pada deposito berjangka dan memperbesar porsi dana murah atau current account savings account (CASA), menjadi langkah wajib. Selain itu, pendanaan dari pasar modal seperti obligasi, subdebt, hingga penerbitan saham juga perlu diperluas.

