Site icon Viral di Media

Sinyal Kekurangan Air untuk 21% Pembangkit Listrik Dunia

Tantangan Ketersediaan Air Mengancam Pembangkit Listrik Global

Sejumlah besar pembangkit listrik di seluruh dunia berada dalam risiko tinggi krisis air. Data menunjukkan bahwa lebih dari 21% dari total pembangkit listrik global beroperasi di wilayah dengan tingkat tekanan air yang tinggi. Hal ini mengkhawatirkan karena permintaan air jauh melebihi ketersediaannya, yang dapat memengaruhi kemampuan pembangkit untuk memasok energi listrik.

Analisis yang dilakukan oleh Bloomberg Intelligence menggunakan model bisnis seperti biasa (business-as-usual/BAU) dari World Resources Institute (WRI) menemukan bahwa sebanyak 795 dari 3.800 infrastruktur pembangkit listrik terletak di area dengan risiko krisis air. Riset ini menyoroti bahwa beberapa jenis pembangkit, seperti tenaga air dan panas bumi, paling rentan karena ketergantungan mereka pada ketersediaan air untuk proses pendinginan maupun produksi listrik.

Pembangkit Berbasis Air Paling Rentan

Pembangkit tenaga air dan panas bumi memiliki tingkat paparan tertinggi terhadap risiko krisis air. Menurut laporan Bloomberg Intelligence, sekitar 25–50% dari aset pembangkit tersebut berada di daerah dengan risiko tinggi. Sementara itu, pembangkit berjenis run-of-river dan bendungan menjadi yang paling banyak terdampak secara absolut, masing-masing mencakup 134 dan 105 unit. Meskipun proporsi risikonya lebih rendah, yaitu sekitar 10–12%, dampaknya tetap signifikan.

Contohnya adalah perusahaan Ormat Technologies yang mengoperasikan 10 pembangkit panas bumi di wilayah dengan tekanan air tinggi. Total kapasitasnya mencapai 188 megawatt (MW), sebagian besar berlokasi di Amerika Serikat. Lebih dari 90% pasokan perusahaan berasal dari wilayah rawan tersebut. Meski mulai meningkatkan penggunaan sistem pendingin hibrida dan air non-tawar, ketersediaan air dan perizinan masih menjadi tantangan utama.

Proyek Pembangkit Baru Juga Terancam

Riset ini juga menunjukkan bahwa sekitar 150 proyek pembangkit listrik yang sedang dalam tahap awal pengembangan akan menghadapi ancaman krisis air pada tahun 2030. Proyek-proyek ini masih dalam tahap pengumuman, perizinan, atau konstruksi. Negara-negara seperti Tiongkok, India, dan Italia mendominasi jumlah proyek dengan risiko tinggi krisis air.

Beberapa pengembang besar yang terkena dampak antara lain Datang dari Tiongkok, SJVN dari India, dan Enel dari Italia. Sebagian besar proyek ini sangat bergantung pada air. Ada 72 proyek berbasis tenaga air, 23 proyek berbasis gas alam, dan delapan proyek berbasis batu bara.

Perusahaan Mulai Memperkuat Mitigasi

Perusahaan-perusahaan seperti SJVN menyebut pengelolaan air sebagai risiko iklim material. Mereka khawatir tentang potensi hilangnya pendapatan, beban kepatuhan, serta kenaikan biaya mitigasi. Di sisi lain, Enel telah mencatat penurunan konsumsi air tawar sebesar 14,3% di wilayah rawan air pada 2024 dibandingkan 2023. Perusahaan ini juga menargetkan penurunan intensitas pengambilan air sebesar 65% pada 2030.

Sementara itu, Xcel Energy dari AS telah mengalokasikan dana sebesar US$28 miliar untuk peningkatan jaringan dan pembangkit hingga 2029, sebagian besar untuk memperkuat ketahanan iklim. Dengan semakin meningkatnya risiko fisik, kelangkaan air diperkirakan akan memperumit proses perizinan dan mengganggu kelayakan finansial proyek-proyek pembangkit baru. Ini menunjukkan pentingnya pengelolaan air yang baik dalam menjaga stabilitas pasokan listrik di masa depan.

Exit mobile version