Pernikahan di Usia Muda: Tantangan dan Persiapan yang Perlu Diperhatikan
Pernikahan di usia muda, terutama sebelum mencapai usia 18 tahun, masih sering ditemui dalam berbagai masyarakat. Meskipun dalam beberapa budaya hal ini dianggap biasa, faktanya banyak remaja belum memiliki kesiapan mental, emosional, maupun fisik untuk menjalani kehidupan berumah tangga.
Menikah terlalu dini bisa membuat seseorang merasa terbebani, bingung menjalani peran barunya sebagai pasangan, bahkan kesulitan dalam merawat dirinya sendiri. Selain itu, masalah ekonomi juga kerap menjadi tantangan, yang dapat memicu konflik dalam hubungan. Pernikahan bukan hanya soal umur, tapi juga soal kesiapan dan kedewasaan dalam membangun kehidupan bersama.
Untuk lebih memahami pengaruh pernikahan dini terhadap kesehatan mental, berikut wawancara dengan psikolog kompeten, Adib Setiawan S. Psi., M.Psi. Ia adalah seorang psikolog keluarga dan pendidikan anak yang memiliki yayasan bernama Praktek Psikolog Indonesia. Yayasan ini juga menjadi tempatnya berpraktik selama 9 tahun dan memberikan layanan konsultasi serta terapi psikologi kepada masyarakat.
Kesiapan dalam Pernikahan
Adib mengatakan bahwa dalam pernikahan yang paling penting adalah kesiapan. “Kesiapan Anda yang tau ya Anda sendiri. Mulai dari kesiapan mencari uang dan lain-lain,” ujarnya. Menurutnya, dalam pernikahan sebenarnya saling memahami antara suami dan istri sangat penting. Jika keduanya bisa saling memahami dan bekerja sama dalam mencari nafkah, maka hubungan tersebut masih bisa dijalani dengan baik.
Namun, ia menyebut bahwa saling memahami tidak selalu mudah. “Banyak orang saling mengharapkan, sehingga muncul konflik. Tapi kalau kita saling mengalah dan saling memberi, itu lebih baik.”
Profil Adib Setiawan
Adib Setiawan S. Psi., M.Psi. telah lama berkecimpung dalam dunia psikologi. Ia kini memiliki yayasan Praktek Psikolog Indonesia yang telah tersebar di berbagai wilayah seperti Bintaro, Rawamangun, Tangerang Selatan, Cileungsi, dan Semarang. Ia berencana untuk memperluas yayasan ini secara bertahap ke wilayah lain.
Sebelum mendirikan yayasan sendiri, ia pernah berpraktik di Yayasan Cinta Harapan Indonesia selama kurang lebih 3 tahun. Riwayat pendidikannya mencakup S1 Psikologi dari UIN Jakarta (2001-2005) dan S2 Profesi Psikolog dari Universitas Tarumanegara Jakarta (2007-2009).
Selain itu, Adib juga aktif dalam berbagai kegiatan pengabdian masyarakat. Beberapa di antaranya meliputi:
- Relawan medis di Rumah Sakit Dr. Suyoto Kementerian Pertahanan pada 2020 selama 2 bulan
- Relawan bencana alam di Selat Sunda bidang psikologi pada Desember 2018 – Januari 2019
- Relawan psikolog di Yayasan Cinta Harapan Indonesia Autism Center sejak 2008 hingga saat ini
Suplemen Kesehatan yang Dianjurkan
Dalam konteks kesehatan, Blackmores Odourless Fish Oil merupakan salah satu suplemen yang direkomendasikan. Produk ini mengandung minyak ikan yang berfungsi untuk menjaga kesehatan jantung, otak, dan sendi tanpa bau. Manfaatnya antara lain:
- Menyediakan kebutuhan Omega-3 untuk mendukung kesehatan yang optimal
- Menjaga kesehatan jantung, otak, dan mata
- Meredakan peradangan dan pembengkakan sendi
Suplemen ini cocok untuk mereka yang ingin menjaga kesehatan secara alami dan efektif.

