Memahami Fenomena Liking Gap
Pernahkah Anda meninggalkan sebuah percakapan sambil meragukan diri sendiri? Mungkin, Anda memutar ulang apa yang Anda katakan, bertanya-tanya apakah terdengar canggung, terlalu berusaha keras, atau tidak meninggalkan kesan yang Anda harapkan. Jika hal itu terdengar familiar, Anda tidak sendirian. Faktanya, hal itu lebih umum daripada yang Anda kira—dan sains bahkan punya istilah khusus untuk fenomena ini.
Fenomena ini dikenal sebagai liking gap, dan ada kebenaran kuat: Kita sering kali meremehkan seberapa besar orang lain merasa nyaman dengan kehadiran kita. Ini adalah kecenderungan alami manusia dalam interaksi sosial, di mana kita cenderung mengkritik diri sendiri lebih dari yang seharusnya.
Apa yang Ditunjukkan oleh Penelitian
Dalam sebuah studi tahun 2018 yang dilakukan oleh peneliti dari Cornell, Harvard, Yale, dan University of Essex, para peserta diminta untuk berinteraksi dengan orang asing. Setelah itu, mereka akan diminta untuk menilai seberapa banyak mereka menyukai lawan bicaranya—dan seberapa besar mereka merasa disukai kembali. Sering kali, mereka meremehkan seberapa positif mereka diterima.
Ini bukan hanya kebetulan yang terjadi sekali saja. Efek yang sama juga terlihat di asrama kampus, tempat kerja, dan percakapan santai. Temuan para peneliti menunjukkan bahwa: Orang-orang sering kali menjadi kritikus terberat mereka sendiri dalam situasi sosial. Kita fokus pada kesalahan yang kita anggap telah kita lakukan atau dengan membandingkan diri kita dengan orang lain.
Kenapa Kita Meragukan Diri Sendiri
Selama 25 tahun bekerja di FBI, Joe Navarro sering berhadapan dengan orang-orang dalam situasi yang sangat stres, dan satu pola yang selalu muncul: Orang-orang sangat sadar diri selama interaksi sosial—kadang-kadang hingga titik di mana mereka merasa lumpuh. Sekarang, lebih dari dua dekade setelah pensiun, orang-orang masih meragukan diri mereka sendiri dan bertanya kepadanya: “Apakah saya terlihat gugup?” “Apakah gerakan tangan saya canggung?”
Berdasarkan pengalamannya, Navarro merasa bahwa kita sering merasa seperti ini saat bertemu seseorang yang memiliki status lebih tinggi, seperti CEO atau orang terkenal. Di sisi lain, ia pernah bertemu dengan individu-individu yang sangat sukses dan sangat ia hormati, yang mengatakan kepadanya bahwa mereka merasa gugup saat pertama kali bertemu dengan dirinya karena ia mempelajari bahasa tubuh.
Self-Questioning dan Perasaan Tidak Aman
Self-questioning atau pertanyaan diri tidak perlu sampai mengaburkan penilain kita. Intinya adalah: Ketika kita terlalu sibuk mencari-cari kekurangan kita, orang lain juga cenderung melakukan hal yang sama, atau mereka malah menikmati momen yang ada, tanpa menganalisis lebih jauh seperti apa yang kita lakukan.
Insecurity (perasaan tidak aman atau kurang percaya diri) itu bukanlah hal yang jarang; hal ini terjadi kepada kita semua, dan kita tidak perlu membiarkan perasaan ini memengaruhi kita dalam bentuk kecemasan dan fokus berlebihan terhadap diri sendiri. Kecenderungan alami kita untuk fokus pada hal-hal negatif—kebiasaan evolusioner otak kita untuk lebih memperhatikan hal-hal buruk daripada yang baik demi kelangsungan hidup, mengganggu pikiran kita saat kita gugup. Dengan kata lain, satu jeda canggung atau ragu-ragu dari kita bisa lebih mendominasi daripada 10 menit percakapan yang harmonis.
Anda Lebih Menarik dari yang Anda Sadari
Ketika kita berinteraksi dengan orang lain, kita sering lupa pada poin penting: Sebagian besar orang ingin interaksi sosialnya berjalan lancar. Mereka tidak menunggu Anda membuat kesalahan. Mereka mencari koneksi, bukan kesempurnaan. Hal yang sama berlaku untuk berbicara di depan umum: Orang-orang ingin Anda berhasil, dan mereka sangat toleran.
Baik itu kencan, wawancara kerja, atau obrolan singkat dengan tetangga, orang-orang lebih suportif daripada yang Anda kira. Sains pun membuktikannya. Suara di kepala Anda yang mengatakan, “Saya terdengar bodoh,” atau “Saya tidak merasa percaya diri,” seringkali hanyalah sisa-sisa performance anxiety (ketakutan yang berlebihan terhadap kemampuan untuk menyelesaikan tugas dengan baik)—bukan kenyataan.
Kerugian dari Kesalahan Penilaian
Sekarang, Anda mungkin berpikir: “Terus, kenapa? Itu kan hanya keraguan diri (self-doubt) yang wajar.” Namun, seiring berjalannya waktu, persepsi seperti ini dapat menimbulkan kerugian. Jika Anda percaya orang-orang tidak menyukai Anda, Anda cenderung tidak akan berkembang, kurang untuk memulai percakapan di masa depan, dan lebih mungkin untuk menarik diri secara sosial. Bahayanya bukan hanya kesempatan yang terlewatkan—tetapi kerusakan hubungan secara perlahan.
Di lingkungan profesional, Navarro sering menyaksikan individu yang menahan diri dalam rapat, para ahli yang enggan memaparkan temuan mereka, dan pemimpin yang ragu-ragu untuk membimbing—semua karena mereka salah memahami cara mereka dipersepsikan.
Cara Mengatasi Liking Gap
Untungnya, kesadaran adalah langkah pertama yang bisa dilakukan. Langkah berikutnya adalah tindakan. Inilah yang Navarro pelajari melalui puluhan tahun pengamatan perilaku—dan apa yang dikonfirmasi oleh penelitian:
- Berfokuslah ke luar, bukan ke dalam: Dalam setiap interaksi, alihkan perhatian Anda dari diri sendiri ke orang lain. Perhatikan ekspresi mereka, dengarkan dengan seksama, dan tunjukkan rasa ingin tahu terhadap mereka. Libatkan orang lain dengan antusiasme dan semangat.
- Normalisasikan kesalahan: Semua orang pernah terpeleset saat berbicara. Entah itu gagap, jeda, atau lelucon yang tidak lucu—itu semua bagian dari menjadi manusia. Yang penting adalah keseluruhan interaksinya, bukan kesalahan sesaat.
- Lanjutkan: Jangan terpaku pada satu aspek dari apa yang terjadi, tapi pikirkan keseluruhan. Setelah percakapan, kebanyakan orang melanjutkan ke hal berikutnya, dan Anda juga harus melakukannya.
Kesimpulan
Kita hidup di era di mana koneksi yang tulus sangat dibutuhkan, tetapi semakin langka. Jika liking gap mengajarkan kita sesuatu, itu adalah: Kita seringkali menjadi penilai terburuk bagi diri sendiri, dan itu adalah masalah yang layak untuk diperbaiki.
Jadi, ketika nanti Anda meninggalkan percakapan sambil bertanya-tanya apakah Anda melakukannya dengan baik, ingatlah: Ilmu pengetahuan mengatakan bahwa Anda kemungkinan besar benar-benar melakukannya. Faktanya, orang yang baru saja Anda ajak bicara mungkin sedang berjalan pergi sambil berpikir, “Itu benar-benar menyenangkan.”
Anda lebih disukai daripada yang Anda kira. Percayalah pada data. Percayalah pada penelitian. Mungkin juga, cobalah lebih percaya kepada diri Anda sendiri.

