Kondisi Terkini Camp Vietnam Pulau Galang
Camp Vietnam di Pulau Galang, yang dulu menjadi destinasi wisata populer, kini sepi pengunjung. Sejak sebagian kawasan ditetapkan sebagai Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) untuk penanganan kasus Covid-19 pada pertengahan 2022, jumlah pengunjung mengalami penurunan drastis. Sebelumnya, setiap bulan bisa mencapai ribuan pengunjung, namun kini hanya ratusan orang yang datang.
Pada kunjungan Tempo beberapa waktu lalu ke Camp Vietnam Pulau Galang, Senin, 11 Agustus 2025, tidak terlihat wisatawan yang berlalu-lalang. Kawasan ini kini dikelola oleh Badan Pengusahaan (BP) Batam. Petugas Penjaga Wisata Camp Vietnam, Abu Nawas, mengatakan bahwa jumlah pengunjung menurun tajam sejak wabah virus corona muncul. Ia memperkirakan sebelum pandemi, pengunjung bisa mencapai lima hingga enam ribu orang per bulan, sedangkan saat ini hanya ratusan orang saja.
“Sekarang hari biasa pengunjung paling tinggi 20 orang, akhir pekan itu 100 orang aja. Dulu ribuan, mulai dari turis mancanegara juga berkunjung kesini,” kata Abu. Ia tidak mengetahui pasti penyebab menurunnya jumlah pengunjung ke destinasi wisata bersejarah tersebut.
Selain sepi pengunjung, kondisi fisik bangunan di kawasan ini juga tidak terawat. Saat berkeliling ke Camp Vietnam, tidak terlihat peninggalan sejarah yang signifikan. Hanya tersisa beberapa bangunan barack tempat pengungsi Vietnam tinggal. Namun, bangunan-bangunan tersebut tidak bisa dilihat secara dekat karena dalam kondisi rusak.
Selain satu barak, ada juga penjara para pengungsi Vietnam yang tidak terawat. Pengunjung tidak bisa melihat lebih dekat karena bangunannya nyaris roboh. Berbeda dengan barak bekas para pengungsi yang tidak terawat, tempat ibadah seperti klenteng dan gereja di kawasan pengungsian Vietnam ini cukup dipelihara dengan baik. “Kalau rumah ibadah ada yayasan keagamaan yang selalu merawat,” kata Abu.
Sebagian bangunan rumah sakit para pengungsi Vietnam peninggalan PBB juga sudah disulap menjadi fasilitas RSKI Covid-19. Sekarang rumah-rumah itu menjadi mes para pekerja PT MEG yang sedang mengejarkan proyek PSN Rempang Eco City, serta didalam kawasan itu juga terdapat kantor Camat Galang dan Koramil.
Beberapa wisatawan juga sempat bertanya tentang tempat rekreasi di Camp Vietnam saat berkunjung. “Ya mau di-apakan lagi,” kata Abu. Namun, dia tetap menjelaskan beberapa lokasi para pengungsi seperti rumah dan pasar meskipun saat ditunjukan faktanya tinggal semak belukar. “Makanya ada wisatawan yang masuk kesini kadang timbul rasa kecewa dan kesal mereka,” kata Abu.
Tanggapan Wisatawan
Kondisi tersebut dibenarkan oleh Josep, salah seorang wisatawan yang sering berkunjung ke Camp Vietnam sebelum sebagian kawasan berubah menjadi RSKI Covid-19. Ia mengaku sering ke Camp Vietnam saat suasana masih orisinil dengan peninggalan yang ada. “Sejak jadi Rumah Sakit Covid lah tidak ada lagi niat ke sana,” kata Josep kepada Tempo, Kamis 21 Agustus 2025.
Pasalnya ketika dia ke sana, komplek asrama para pengungsi sudah tidak ada lagi. “Tinggal gereja saja, dulu kandang rusa juga ada, tetapi sekarang tidak ada lagi, apa yang mau dilihat,” katanya. Josep juga merasa sedih, Camp Vietnam saat ini sudah sepi pengunjung padahal itu salah satu situs bersejarah di Batam.
Usulan Cagar Budaya
Di tengah kondisi tersebut, BP Batam mengusulkan Wisata Camp Vietnam, yang berada di Desa Sijantung, Galang, Kota Batam, menjadi kawasan cagar budaya. Surat usulan penetapan kawasan cagar budaya ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam sudah dikirimkan pada 10 April 2025 lalu.
Usulan tersebut didukung Disbudpar Kota Batam, yang kemudian dilanjutkan dengan mengundang tenaga arkeologi penilai autentitas objek yang diduga cagar budaya dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IV. “Wisata Camp Vietnam merupakan salah satu bukti sejarah sisi kemanuasian Indonesia. Untuk itu BP Batam mengajukan wisata Camp Vietnam ini menjadi Kawasan cagar budaya tingkat kota hingga nasional,” kata Wahu Suci Rahayu, Manajer Operasional dan Pemeliharaan Badan Usaha SPAM BP Batam.
Begitu juga Disbudpar Kota Batam dalam siaran persnya menyatakan untuk menjadikan Camp Vietnam sebagai daya tarik wisata, bersama BP Batam berkomitmen untuk melakukan perbaikan infrastruktur. Rencana tersebut mencakup pembangunan jalur akses yang lebih baik, penyediaan fasilitas penunjang wisata seperti pusat informasi dan area istirahat, serta promosi intensif untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Pengembangan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kunjungan wisata, tetapi juga memberikan pengalaman edukatif tentang nilai sejarah dan kemanusiaan. “Camp Vietnam bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga simbol kemanusiaan yang dapat menginspirasi dunia. Dengan pencanangan ini, kami ingin menjadikannya destinasi wisata yang mendidik sekaligus memperkuat identitas budaya Batam,” kata Kepala Disbudpar Kota Batam, Ardiwinata.
Pencanangan Kawasan Cagar Budaya Camp Vietnam diharapkan menjadi tonggak baru dalam pengembangan pariwisata Kota Batam. “Dengan menggabungkan nilai sejarah, edukasi, dan keindahan alam Pulau Galang, Batam optimistis dapat menarik lebih banyak wisatawan serta memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata budaya di Indonesia,” kata Ardi.

