Realisasi Belanja Modal di Semester Pertama Tahun 2025
Beberapa perusahaan terkemuka di Indonesia telah melaporkan realisasi belanja modal atau capital expenditure (capex) hingga semester pertama tahun 2025. Hal ini menunjukkan adanya upaya ekspansi dan pengembangan bisnis dari berbagai sektor.
PT Astra International Tbk. (ASII) mencatatkan realisasi capex sebesar Rp8,8 triliun pada semester pertama tahun 2025. Angka ini setara dengan 33,8% dari total anggaran capex perseroan senilai Rp26 triliun pada tahun yang sama. Wakil Presiden Direktur ASII, Rudy, menjelaskan bahwa dana tersebut digunakan untuk berbagai pengembangan bisnis. Pada lini alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi melalui PT United Tractors Tbk. (UNTR), capex dialokasikan untuk pembelian alat berat. Sementara itu, pada lini agribisnis melalui PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI), dana digunakan untuk replanting serta pemeliharaan mill and port. Untuk bisnis otomotif, capex digunakan untuk pembelian alat produksi, pengembangan cabang, dan lahan baru.
PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) juga melaporkan realisasi capex sekitar 35% dari total anggaran sepanjang 2025. Dana tersebut terutama dialokasikan untuk pembangunan dua rumah sakit baru. Rumah sakit di Cirebon, Jawa Barat, telah dioperasikan oleh anak usaha Kasih Group sejak 26 Juni 2025, dengan kapasitas 100 tempat tidur dan ditargetkan mendorong kontribusi pasien BPJS. Sementara itu, rumah sakit di Sidoarjo, Jawa Timur, masih dalam tahap pembangunan dengan progres 93% dan diproyeksikan rampung pada kuartal III/2025. Total capex MIKA tahun ini mencapai Rp1 triliun.
Selain itu, PT Jasa Marga Tbk. (JSMR) telah menyerap capex sebesar Rp4,85 triliun untuk pembangunan jalan tol. Direktur Utama Jasa Marga, Rivan Achmad Purwantono, menyatakan bahwa serapan capex tahun ini bergantung pada progres lima proyek strategis, yakni Jakarta–Cikampek II Selatan, Jogja–Bawen, Jogja–Solo, Probolinggo–Banyuwangi, serta Akses Patimban. Ia mengestimasikan capex hingga akhir tahun ini sekitar Rp10 triliun hingga Rp12 triliun.
Sementara itu, PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM) membelanjakan capex sebesar Rp9,5 triliun atau 13,0% dari total pendapatan, turun 18,7% YoY. Manajemen TLKM dalam info memo menyebut lebih dari 50% capex dialokasikan untuk ekspansi konektivitas digital, seperti jaringan serat optik, menara, satelit, dan kabel bawah laut. Sisa investasi mendukung platform digital, antara lain pusat data, cloud, dan layanan digital lainnya.
Apakah Serapan Capex Sudah Optimal?
Dengan beragamnya realisasi capex dari masing-masing emiten, pasar mulai menaruh perhatian pada seberapa jauh realisasi belanja modal dapat menopang kinerja perusahaan ke depan.
Analis menilai, optimal atau tidaknya serapan capex hingga paruh pertama tahun ini sangat bergantung pada kondisi makro, baik global maupun domestik. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa optimal atau tidaknya serapan capex tersebut akan bergantung pada situasi dan kondisi global serta dalam negeri, serta regulasi atau momentum dari satu sektor yang mewakili saham tersebut.
Contohnya, jika berbicara mengenai sektor properti, di tengah tingginya tingkat suku bunga, maka serapan capex dari emiten properti menjadi tidak maksimal. Namun, apabila tingkat suku bunga turun, maka sektor-sektor tertentu bisa menarik dan mengalami kenaikan, didukung oleh situasi dan kondisi yang kondusif.
Nico mengatakan bahwa serapan capex hingga saat ini boleh dikatakan cukup baik. Ia berharap pada semester kedua nanti akan jauh lebih baik, terlebih dengan adanya Menteri baru dan kebijakan baru.
Sejauh ini, Nico mencermati sejumlah emiten cenderung menahan laju ekspansinya. Hal ini juga tercermin dari perlambatan ekonomi. Pihaknya berharap dengan adanya pemangkasan tingkat suku bunga, hal ini akan mendorong kenaikan konsumsi, daya beli, dan investasi.
“Oleh sebab itu, kalau kita katakan [serapan capex] cukup baik, cukup baik, tapi tetap struggle karena mereka butuh kepastian dalam melakukan ekspansi. Jangan sampai ekspansinya menjadi sia-sia,” ujarnya.
Sejauh ini, terdapat katalis positif seperti kepastian tarif, adanya reshuffle kabinet, dan kepastian The Fed dalam pemangkas tingkat suku bunga. “Jadi tinggal proses utamanya menjaga sentimen yang positif ini setidaknya hingga akhir tahun, sehingga memberikan kesempatan bagi emiten-emiten untuk dapat menjalankan bisnis lainnya untuk ekspansi di tengah perlambatan ekonomi yang terjadi saat ini,” tambahnya.

