Site icon Viral di Media

Pekan Ini, Wall Street Tunggu Keputusan Suku Bunga The Fed

Pergerakan Bursa Saham AS Dipengaruhi Kebijakan The Fed

Pergerakan bursa saham Amerika Serikat (AS) pada pekan ini dipengaruhi oleh kebijakan yang diambil oleh The Federal Reserve (The Fed). Dalam beberapa bulan terakhir, pasar mengantisipasi bahwa bank sentral akan melakukan pemangkasan suku bunga untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan. Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap pelemahan pasar tenaga kerja AS.

Data inflasi AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan angka sedikit lebih tinggi dari perkiraan. Namun, pelaku pasar tetap optimis bahwa langkah pemangkasan suku bunga akan dilakukan pada minggu depan. Ini setelah sejumlah laporan pertumbuhan lapangan kerja yang mengecewakan dan menunjukkan penurunan yang signifikan.

Yang masih menjadi perdebatan adalah besaran pemangkasan suku bunga yang akan dilakukan. Beberapa ahli memperkirakan bahwa The Fed akan melakukan pemangkasan sebesar 25 basis poin, sementara sebagian lainnya memprediksi kemungkinan penurunan yang lebih besar, yaitu 50 basis poin.

Chris Fasciano, Chief Market Strategist di Commonwealth Financial Network, menjelaskan bahwa dengan kondisi perdagangan dan kebijakan fiskal yang relatif stabil, The Fed kembali menjadi perhatian utama investor. “Sekarang, dengan pasar tenaga kerja yang melemah, The Fed menjadi cerita dominan bagi investor tentang bagaimana menghadapinya,” ujarnya.

Ekspektasi pemangkasan suku bunga juga berdampak positif terhadap indeks saham utama AS. Indeks S&P 500 telah mencatat kenaikan sebesar 12% sepanjang 2025. Hal ini didorong oleh euforia potensi kecerdasan buatan (AI), kinerja laba korporasi yang solid, serta meredanya kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dari tarif impor Presiden Donald Trump.

Berdasarkan data LSEG, kontrak berjangka Fed fund menunjukkan bahwa pasar memperkirakan ada peluang sebesar 90% bahwa The Fed akan memangkas bunga sebesar 25 basis poin pada keputusan kebijakan pekan depan. Sementara itu, 10% sisanya memperkirakan pemangkasan lebih besar, yaitu 50 basis poin.

Nicholas Colas, Co-founder DataTrek Research, menjelaskan bahwa dari 55 kali pemangkasan suku bunga The Fed sejak 1990, sebanyak 60% adalah sebesar 25 basis poin. Sementara itu, dari 18 kali pemangkasan sebesar 50 basis poin, hampir seluruhnya terjadi saat atau setelah resesi. Pengecualian terjadi pada September 2024 yang menjadi awal dari tiga kali pemangkasan total 100 basis poin, sehingga membawa suku bunga ke level saat ini 4,25%–4,5%.

“Berdasarkan sejarah ini, yang tentu disadari The Fed maupun pasar, pemangkasan 50 basis poin akan memberi sinyal bahwa The Fed khawatir terhadap prospek ekonomi AS dalam waktu dekat,” jelas Colas.

Saat ini, kontrak berjangka Fed fund memperkirakan total pelonggaran 73 basis poin hingga Desember atau hampir setara dengan tiga kali pemangkasan standar. The Fed juga dijadwalkan merilis proyeksi ekonomi terbarunya pada Rabu mendatang.

Sejauh ini, The Fed menahan suku bunga sepanjang 2025. Ketua The Fed Jerome Powell dan sejumlah pejabat bank sentral menyampaikan kewaspadaan bahwa tarif impor Trump bisa memicu inflasi lebih tinggi, sehingga menjadi alasan untuk menunda pemangkasan.

Data terbaru menunjukkan Indeks Harga Konsumen (IHK) AS naik 2,9% secara tahunan pada Agustus, termasuk kenaikan bulanan terbesar sejak Januari. Meski The Fed memiliki mandat ganda, yakni menjaga stabilitas harga dan memaksimalkan lapangan kerja, investor berharap fokus utama saat ini adalah menopang pasar tenaga kerja.

Revisi data pemerintah pekan ini menunjukkan bahwa ekonomi AS menciptakan 911.000 lapangan kerja lebih sedikit dalam 12 bulan hingga Maret dibandingkan perkiraan sebelumnya. “Revisi data tenaga kerja itu luar biasa besar dan perlu mendapat perhatian. Pasar ingin mendengar bahwa ada perubahan nyata dan menyeluruh agar pelemahan ini tidak semakin memburuk,” jelas Yung-Yu Ma, Chief Investment Strategist di PNC Financial Services Group.

Selain kebijakan The Fed, Wall Street juga menyoroti saham teknologi dan tren AI. Lonjakan 36% saham Oracle pada Rabu membuat valuasi perusahaan perangkat lunak itu mendekati US$1 triliun. Reli saham dipicu serangkaian kontrak bisnis komputasi awan senilai miliaran dolar yang mencerminkan besarnya kebutuhan daya komputasi dalam persaingan AI.

“Lonjakan saham Oracle itu mengejutkan, apalagi bagi perusahaan sebesar itu bisa mencatatkan reaksi pasar sedemikian besar. Ini menunjukkan bahwa perkembangan ekonomi, teknologi, dan AI bergerak sangat cepat,” tambah Ma.

Exit mobile version