Pertumbuhan Sektor Manufaktur Indonesia Tercatat Meski Melambat di Akhir Tahun 2025
Pada akhir tahun 2025, sektor manufaktur Indonesia masih mencatat ekspansi meskipun laju pertumbuhannya melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis oleh S&P Global menunjukkan angka sebesar 51,2 pada Desember 2025, turun dari posisi 53,3 pada November 2025. Angka ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur masih dalam kondisi ekspansi, meskipun dengan tingkat pertumbuhan yang lebih rendah.
Menurut laporan S&P Global, ekspansi utama didorong oleh kenaikan permintaan baru yang terus berlanjut selama lima bulan berturut-turut. Namun, laju peningkatan permintaan tersebut lebih lambat dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini menunjukkan adanya sedikit penurunan momentum dalam aktivitas bisnis.
Selain itu, produksi juga terus meningkat, tetapi pertumbuhannya hanya marginal. Kendala pasokan bahan baku menjadi salah satu faktor utama yang membatasi peningkatan produksi. Meski demikian, kondisi permintaan yang relatif kuat mendorong produsen untuk meningkatkan jumlah tenaga kerja dan aktivitas pembelian.
Perusahaan juga mulai menambah persediaan, baik pra-produksi maupun pascaproduksi, guna mengantisipasi kebutuhan pesanan saat ini dan mendatang. Stok barang jadi tercatat meningkat ke level tertinggi gabungan dalam enam tahun terakhir, setara dengan capaian Juli 2024.
Kondisi Permintaan dan Ekspor
Dari sisi permintaan, peningkatan penjualan terutama ditopang oleh pasar domestik. Peluncuran produk baru dan peningkatan jumlah pelanggan menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan permintaan. Namun, pesanan ekspor baru kembali menurun dan telah terkontraksi selama empat bulan berturut-turut.
Meningkatnya pesanan juga memicu kenaikan tumpukan pekerjaan selama dua bulan berturut-turut, mengindikasikan adanya tekanan kapasitas meskipun jumlah tenaga kerja bertambah. Laju penciptaan lapangan kerja tercatat marginal dan lebih lambat dibandingkan November, namun masih sejalan dengan rata-rata sepanjang 2025.
Tekanan Biaya dan Inflasi
Dari sisi biaya, perusahaan menghadapi kenaikan harga bahan baku, kelangkaan pasokan, serta keterlambatan pengiriman, yang menyebabkan inflasi biaya input tetap tergolong tinggi. Meski demikian, tekanan biaya tercatat lebih rendah dibandingkan rata-rata jangka panjang dan turun ke posisi terendah dalam empat bulan terakhir.
Untuk mengimbangi kenaikan tersebut, produsen kembali menaikkan harga jual, meskipun dengan laju yang lebih moderat dibandingkan bulan sebelumnya. Beberapa perusahaan juga melaporkan bahwa cuaca buruk turut memperburuk kinerja pemasok, sehingga waktu tunggu pengiriman kembali meningkat pada Desember.
Prediksi untuk Tahun 2026
Memasuki tahun 2026, optimisme pelaku usaha manufaktur kian menguat. Tingkat kepercayaan bisnis naik ke level tertinggi sejak September 2025 atau tiga bulan terakhir, seiring ekspektasi permintaan yang tetap terjaga. Sebagai dampak ekspektasi yang positif, perusahaan berupaya meningkatkan persediaan barang pra- dan pasca produksi guna menjaga efisiensi proses produksi dan penyelesaian pesanan.
Dari sisi biaya, tekanan inflasi masih terasa di sektor manufaktur, meski lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Meskipun berkurang dibanding bulan sebelumnya, inflasi biaya masih tergolong kuat di sektor manufaktur Indonesia. Perusahaan juga memilih untuk membebankan kenaikan biaya kepada klien, dengan kenaikan harga jual terbaru tercatat lebih kuat dibandingkan rata-rata sepanjang tahun 2025.

