Strategi Manajer Investasi dalam Menghadapi Tahun 2026
Di tengah pertumbuhan dana kelolaan (asset under management/AUM) yang signifikan pada tahun 2025, berbagai manajer investasi mulai mempersiapkan strategi baru untuk menarik minat investor. Salah satu perusahaan yang mencatatkan AUM tinggi adalah Sinarmas Asset Management dengan nilai mencapai Rp62,39 triliun. Untuk menghadapi tahun 2026, Sinarmas AM menyiapkan beberapa strategi khusus.
Pendekatan Taktis dan Berbasis Fundamental
Head of Equity Sinarmas Asset Management, Donny Primananda, menjelaskan bahwa perusahaan akan menerapkan strategi taktis dan berbasis fundamental dalam merancang reksa dana. Khusus untuk reksa dana saham atau campuran, fokus utama adalah alokasi besar terhadap saham-saham yang memiliki kapitalisasi jumbo dan likuiditas yang baik.
Sinarmas AM telah meluncurkan tiga jenis reksa dana saham, yaitu Simas Danamas Saham, Simas Saham Unggulan, dan Simas Saham Maksima. Ketiga produk ini memiliki performa yang cukup positif. Misalnya, Simas Danamas Saham mencatat kenaikan sebesar 33,57% YoY, dengan eksposur hingga 80–90% terhadap saham. Beberapa saham yang menjadi pilihan antara lain ARCI, BRPT, BRMS, DSNG, dan HRTA.
Sementara itu, Simas Saham Unggulan juga menunjukkan kenaikan hingga 22,57% YoY, dengan dana kelolaan mencapai Rp585,44 miliar. Reksa dana ini memiliki eksposur maksimal 98% terhadap saham seperti BBCA, BMRI, BBRI, BUMI, DEWA, MDKA, atau PTRO.
Sektor yang Diperhatikan
Menurut Donny, sektor-sektor yang menjadi perhatian Sinarmas AM antara lain perbankan, consumer goods, emas, nikel, CPO, dan telekomunikasi. Pemilihan saham juga didasarkan pada fundamental yang kuat, arus kas stabil, serta eksposur terhadap konsumsi domestik dan komoditas. Hal ini dilakukan mengingat kebijakan moneter yang cenderung longgar.
Pandangan Korea Investment Management Indonesia (KIM)
Berbeda dengan Sinarmas AM, Korea Investment Management Indonesia (KIM) memiliki pendekatan yang lebih defensif. Di tengah gejolak geopolitik dan peluang industri reksa dana, KIM memilih saham defensif dan berorientasi domestik. Dua sektor utama yang menjadi fokus KIM adalah telekomunikasi dan konsumer.
Menurut KIM, saham-saham di pasar modal Indonesia saat ini berada dalam valuasi yang relatif murah dibandingkan rata-rata historis. Sektor telekomunikasi dinilai memiliki potensi perbaikan fundamental dan penciptaan nilai melalui inisiatif strategis. Sementara sektor konsumer dianggap prospektif karena dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang ekspansif.
Namun, KIM lebih berhati-hati terhadap sektor berbasis komoditas yang sangat sensitif terhadap dinamika global dan berpotensi mengalami volatilitas tinggi.
Strategi RDPT dan Obligasi
Untuk reksa dana campuran (RDPT), KIM memilih obligasi dengan tenor 3–5 tahun karena menawarkan imbal hasil yang kompetitif meskipun tren suku bunga sedang menurun.
Pendekatan Batavia Prosperindo Aset Manajemen
Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Eri Kusnadi, menyebut bahwa pihaknya tetap memilih saham-saham yang sama dengan racikan reksa dana saham/campuran mereka tahun lalu. Untuk obligasi pemerintah, Batavia Prosperindo cenderung menetralkan durasi dan memperhatikan kualitas kredit serta fundamental perusahaan.
Eri menekankan bahwa fokus utama perusahaan adalah pada tema-tema yang selaras dengan fokus pertumbuhan ekonomi yang direncanakan oleh pemerintah, seperti konsumer dan kesehatan.
Dengan berbagai strategi yang diterapkan, manajer investasi semakin memperkuat posisi mereka dalam menghadapi tantangan dan peluang di tahun 2026.

