Site icon Viral di Media

10 Ribu Mahasiswa PTS Surabaya Terancam Putus Sekolah Akibat Biaya Kuliah

Masalah Pendidikan Tinggi di Surabaya

Sebanyak 10 ribu mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Surabaya terancam mengalami drop out akibat kesulitan dalam membayar biaya kuliah. Banyak dari mereka menunggak Uang Kuliah Tunggal (UKT), bahkan ada yang telah lulus tetapi masih memiliki tunggakan. Hal ini disampaikan oleh Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, yang menyatakan bahwa data ini menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan di kota tersebut belum sepenuhnya optimal dan tepat sasaran.

Eri menjelaskan bahwa banyak mahasiswa dari kelompok masyarakat dengan ekonomi rendah, yaitu desil 1 hingga 5, berada di PTS. Ini menjadi perhatian serius agar mereka dapat menyelesaikan pendidikan tinggi. Ia menekankan pentingnya memastikan bahwa anak-anak Surabaya tetap bisa menempuh pendidikan tinggi secara gratis melalui kerja sama antara Pemkot Surabaya dengan perguruan tinggi.

Langkah Kebijakan untuk Meningkatkan Akses Pendidikan

Dalam waktu dekat, Pemkot Surabaya akan menjalin nota kesepahaman (MoU) dengan perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS). Tujuan dari langkah ini adalah memperkuat kerja sama dalam mendukung program Beasiswa Pemuda Tangguh. Dengan demikian, bantuan pendidikan dapat tersalurkan secara tepat kepada mahasiswa yang benar-benar membutuhkan.

Menurut Eri, UKT seluruh penerima beasiswa akan menjadi tanggung jawab langsung antara Pemkot dan kampus. Fokus utama dari program ini adalah memastikan bahwa sarjana yang dibantu benar-benar dapat menyelesaikan pendidikan, bekerja, dan pada akhirnya mampu meningkatkan taraf hidup keluarganya.

Selain itu, Pemkot Surabaya juga akan memastikan bahwa mahasiswa yang masuk kategori tidak mampu tetap dibiayai oleh pemerintah kota. Besaran bantuan akan dibicarakan bersama pihak rektorat.

Evaluasi Internal dan Temuan Menarik

Meski jalur beasiswa seharusnya berbasis pada kemampuan ekonomi, Eri Cahyadi mengungkapkan adanya temuan menarik dalam evaluasi internal. Beberapa penerima beasiswa ternyata lolos melalui jalur mandiri, bukan melalui sistem beasiswa yang seharusnya digunakan.

Selain itu, ditemukan ketidaksesuaian data, termasuk anak-anak mantan pejabat atau pensiunan yang ketika mengajukan data dituliskan sebagai tidak bekerja, padahal memiliki pensiun dan aset yang memadai. Hal ini menunjukkan adanya potensi penyalahgunaan dalam sistem beasiswa saat ini.

Komitmen untuk Sistem Beasiswa yang Lebih Baik

Dengan penandatanganan MoU, Pemkot Surabaya berkomitmen memastikan pendidikan tinggi bagi anak-anak Surabaya tidak hanya gratis, tetapi juga adil, transparan, dan tepat sasaran. Seluruh sistem beasiswa akan diperbaiki agar praktik-praktik keliru tidak lagi terjadi.

Tujuan utama dari perbaikan ini adalah memastikan semua mahasiswa Surabaya memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan tinggi. Eri menegaskan bahwa pihaknya akan terus berupaya untuk memastikan bahwa bantuan pendidikan dapat mencapai sasaran yang tepat dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Langkah Berikutnya

Pemkot Surabaya akan terus melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap sistem beasiswa. Kerja sama dengan perguruan tinggi akan menjadi salah satu prioritas utama. Dengan demikian, diharapkan dapat tercipta sistem pendidikan yang lebih adil dan efisien, sehingga setiap mahasiswa berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan tinggi tanpa harus terbebani oleh biaya.

Exit mobile version