Aksi Wisatawan Mancanegara di Danau Rusa Menuai Kritik dari Tokoh Adat Kampar
BANGKINANG – Sebuah kejadian yang viral di media sosial mengenai aksi wisatawan mancanegara yang mengenakan bikini di objek wisata Danau Rusa, kawasan PLTA Koto Panjang, menimbulkan reaksi dari tokoh adat Kampar. Peristiwa ini dinilai bertentangan dengan norma agama dan adat setempat, sekaligus memicu desakan agar pemerintah daerah lebih jelas dalam merancang konsep pengembangan pariwisata di Kabupaten Kampar.
Salah satu tokoh adat Kampar, Sawir Datuk Tandiko, menyampaikan bahwa pemerintah daerah, khususnya Dinas Pariwisata Kabupaten Kampar, perlu segera merumuskan konsep pariwisata yang jelas dan terarah. Ia menegaskan bahwa meskipun dirinya tidak pernah menolak kehadiran wisatawan, termasuk wisatawan asing, ia berharap pengembangan pariwisata tidak melanggar nilai-nilai lokal.
“Intinya kami selaku tokoh adat tidak pernah menolak wisata. Bahkan saya mendukung agar wisata kita berkembang dan memberi manfaat ekonomi bagi anak kemenakan,” ujar Datuk Tandiko kepada awak media, Selasa (10/2).
Namun, ia menekankan bahwa pengembangan pariwisata di Kampar tidak bisa disamakan dengan daerah lain. Kampar memiliki karakteristik kuat sebagai daerah religius yang lekat dengan tradisi adat, suluk, dan ziarah. Oleh karena itu, konsep pariwisata harus tetap selaras dengan identitas Kampar sebagai daerah religius.
Datuk Tandiko menyayangkan jika upaya meningkatkan kunjungan wisata justru mengabaikan nilai-nilai lokal. Ia menilai, pengembangan pariwisata harus tetap menjaga citra daerah sebagai Serambi Mekkah-nya Riau. Menurutnya, aturan yang jelas diperlukan agar tidak terjadi gesekan di tengah masyarakat.
Terkait insiden wisatawan berbikini tersebut, ia menyoroti kinerja Dinas Pariwisata Kabupaten Kampar yang dinilai belum memiliki konsep pengembangan wisata yang matang. Ke depan, ia berharap Dinas Pariwisata dapat menyiapkan sarana, prasarana, serta regulasi yang sejalan dengan citra Kampar sebagai Serambi Mekkah-nya Riau.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kampar, Afdal, menyebutkan bahwa pihaknya menganggap kejadian tersebut sebagai bentuk kecolongan dalam pengawasan dan bukan sesuatu yang disengaja. “Kejadiannya sudah terjadi dan tentu ini tidak kita harapkan,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Disparbud Kampar akan menginstruksikan petugas di lapangan agar lebih aktif memberikan imbauan kepada pengunjung terkait norma dan etika yang berlaku di kawasan wisata, baik wisatawan asing maupun lokal. Ia menjelaskan, di kawasan tersebut juga terdapat aktivitas camping oleh pengunjung lokal yang sama-sama perlu diingatkan apabila melanggar norma.
Afdal menegaskan, pengembangan pariwisata harus tetap memperhatikan adat dan budaya lokal dengan pendekatan yang bijak dan tidak emosional. “Kita setuju ekonomi jangan sampai melanggar adat. Tapi cara mengingatkan wisatawan juga tidak bisa dengan cara ekstrem. Budaya dan cara berpikir mereka berbeda dengan kita,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan yang digunakan harus bersifat universal, dengan menekankan etika dan aturan yang dapat diterima semua pihak. “Jangan sampai potensi wisata ini hilang hanya karena emosi sesaat. Ini perlu dikelola dengan hati-hati,” tegasnya.

