Tiga Kompleks Makam Sebagai Pusat Ziarah di Bulan Ramadan 2026
Tiga kompleks makam para pendiri Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman menjadi pusat perhatian masyarakat menjelang bulan Ramadan 2026. Ketiga lokasi makam ini memiliki nilai sejarah yang mendalam bagi peradaban Mataram Islam Yogyakarta. Mereka adalah Astana Kotagede di Kota Yogyakarta, Astana Pajimatan Imogiri di Kabupaten Bantul, dan Astana Girigondo di Kabupaten Kulon Progo.
Tidak hanya masyarakat umum, tetapi juga kalangan pejabat daerah dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) turut serta berziarah ke tiga makam tersebut pada Rabu, 11 Februari 2026. Menurut Asisten Bidang Administrasi Umum Sekretaris Daerah DIY, Srie Nurkyatsiwi, ziarah ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap para leluhur dan pemimpin terdahulu.
Prosesi Ziarah ke Tiga Makam
Prosesi ziarah dimulai dengan mengunjungi Astana Kotagede, yang merupakan situs makam tertua bagi para raja Mataram Islam. Di sini, para pemimpin seperti Panembahan Senopati diberi tempat istirahat terakhir. Astana Kotagede dibangun pada abad ke-16, sekitar tahun 1580-an, dan menjadi saksi bisu awal mula berdirinya Kerajaan Mataram Islam di bawah kepemimpinan Panembahan Senopati.
Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan ke Astana Pajimatan Imogiri, sebuah kompleks makam agung di perbukitan Bantul. Makam ini menjadi tempat peristirahatan bagi raja-raja Kasultanan Yogyakarta, termasuk Sultan Hamengku Buwono I hingga IX. Pembangunan Astana Pajimatan Imogiri dimulai oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo pada tahun 1632 di atas Bukit Merak.
Terakhir, rombongan menyambangi Astana Girigondo di Kulon Progo, yang merupakan kompleks makam bagi para pemimpin dan keluarga besar Kadipaten Pakualaman, mulai dari Sri Paduka Paku Alam V hingga IX. Astana Girigondo lebih muda dibandingkan dua makam sebelumnya, karena didirikan pada akhir abad ke-19 selama pemerintahan Sri Paduka Paku Alam V. Makam ini khusus untuk keluarga besar Kadipaten Pakualaman.
Penghormatan terhadap Perjuangan Pendahulu
Menurut Siwi, ziarah ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan pendahulu dalam membangun Yogyakarta. Sejarah mencatat bahwa perjuangan Pangeran Mangkubumi dalam menghadapi VOC berujung pada Perjanjian Giyanti setelah sembilan tahun peperangan. Peristiwa ini menandai berdirinya Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat pada 13 Maret 1755, yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi DIY.
Selain itu, pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII menyatakan bergabung dan mendukung Republik Indonesia. Sikap “loro-lorone atunggal” (kesatuan dua pemimpin) Yogyakarta ini menjadi bukti pengabdian kepada bangsa dan negara tidak pernah terpisahkan.
Selama prosesi ziarah, rombongan menggelar doa bersama dan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan terhadap para leluhur. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang penghormatan, tetapi juga menjadi momen penting untuk merenungkan sejarah dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

