Prakiraan Cuaca Jawa Tengah untuk Hari Jumat, 13 Maret 2026
Pada hari Jumat, 13 Maret 2026, wilayah Jawa Tengah (Jateng) akan mengalami berbagai kondisi cuaca yang berbeda-beda. Dari total 35 kabupaten dan kota di Jateng, dua daerah diprediksi akan cerah sepanjang hari, yaitu Cilacap dan Kota Tegal.
Sementara itu, hujan ringan akan mendominasi di 29 wilayah lainnya. Di beberapa daerah, hujan disertai petir juga diprediksi terjadi. Berikut adalah daftar wilayah yang diperkirakan akan mengalami hujan disertai petir:
- Boyolali
- Grobogan
- Semarang
- Sragen
Selain itu, terdapat 29 wilayah lainnya yang akan mengalami hujan ringan. Wilayah-wilayah tersebut antara lain:
- Banjarnegara
- Banyumas
- Batang
- Blora
- Brebes
- Demak
- Jepara
- Karanganyar
- Kebumen
- Kendal
- Klaten
- Kota Magelang
- Kota Pekalongan
- Kota Salatiga
- Kota Semarang
- Kota Surakarta
- Kudus
- Magelang
- Pati
- Pekalongan
- Pemalang
- Purbalingga
- Purworejo
- Rembang
- Sukoharjo
- Tegal
- Temanggung
- Wonogiri
- Wonosobo
Sementara itu, dua wilayah yang diprediksi akan cerah sepanjang hari adalah:
- Cilacap
- Kota Tegal
Suhu udara rata-rata di Jawa Tengah pada hari Jumat, 13 Maret 2026, diperkirakan berkisar antara 15 derajat Celsius hingga 32 derajat Celsius. Kecepatan angin rata-rata diperkirakan antara 3 km per jam hingga 11 km per jam.
Musim Kemarau Diprediksi Lebih Awal
Musim kemarau di Jawa Tengah diprediksi akan datang lebih awal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurut informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau di wilayah ini diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus 2026.
Namun, kondisi ini tidak sama untuk setiap wilayah. Puncak musim kemarau bisa terjadi lebih awal atau lebih lambat tergantung pada kondisi iklim global. Fenomena La Nina Lemah yang berlangsung sejak Oktober 2025 telah berakhir pada Februari 2026. Saat ini, indeks ENSO (El Niño-Southern Oscillation) berada pada fase Netral dengan nilai minus 0,28. BMKG memprediksi bahwa kondisi ini akan bertahan hingga Juni 2026.
Meski demikian, mulai pertengahan tahun 2026, peluang munculnya El Niño kategori Lemah-Moderat sebesar 50-60 persen mulai semester kedua tahun ini perlu menjadi perhatian.
Kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) juga diprediksi tetap stabil pada fase Netral sepanjang tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh IOD terhadap iklim Indonesia tidak terlalu signifikan.
Prediksi Awal dan Puncak Musim Kemarau 2026
Berdasarkan data dari BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan memasuki musim kemarau lebih awal dari biasanya. Sebanyak 325 ZOM (Zona Oseanik dan Meteorologis) atau sekitar 46,5 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal kemarau lebih cepat dari biasanya.
Puncak musim kemarau 2026 diprediksi terjadi pada bulan Agustus. Wilayah yang diprediksi mengalami puncak kemarau pada Agustus mencakup 429 ZOM atau sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia. Wilayah lain akan mengalami puncak kemarau pada Juli (12,6 persen) dan September (14,3 persen).
Wilayah yang diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada Juli meliputi:
- Sebagian wilayah Sumatera
- Kalimantan bagian tengah dan utara
- Sebagian kecil Jawa
- Sebagian kecil Nusa Tenggara
- Sebagian Sulawesi
- Sebagian Maluku hingga wilayah barat Pulau Papua
Sementara itu, wilayah yang diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada Agustus meliputi:
- Sumatera bagian tengah dan selatan
- Jawa Tengah
- Jawa Timur
- Sebagian besar Kalimantan
- Sebagian besar Sulawesi
- Seluruh wilayah Bali
- Nusa Tenggara
- Sebagian Maluku dan Pulau Papua
Wilayah yang diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada September meliputi:
- Sebagian Lampung
- Sebagian kecil Jawa
- Sebagian besar NTT
- Wilayah Sulawesi bagian utara dan timur
- Sebagian besar Maluku Utara
- Sebagian Maluku
- Sebagian kecil Pulau Papua
Sifat Musim Kemarau 2026
Secara umum, sifat musim kemarau 2026 diprediksi akan bersifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya di 451 ZOM (64,5 persen) dan Normal di 245 ZOM (35,1 persen). Hanya terdapat 3 ZOM (0,4 persen) di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang berpotensi mengalami kemarau Atas Normal atau lebih basah.
Dengan kondisi ini, durasi musim kemarau di 57,2 persen wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari normalnya. Untuk menghadapi risiko yang mungkin terjadi, langkah antisipasi sangat penting.
Di sektor pangan, para petani perlu segera menyesuaikan jadwal tanam dengan memilih varietas yang lebih hemat air, tahan kekeringan, serta memiliki siklus panen yang lebih singkat. Selain itu, penguatan sektor sumber daya air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi juga diperlukan.
Di sektor lingkungan, kewaspadaan terhadap dampak lingkungan seperti penurunan kualitas udara dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi prioritas utama. BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini (Early Warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (Early Action) oleh para pemangku kepentingan demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia.

