Site icon Viral di Media

H.O.S Tjokroaminoto, Bapak Asih yang Mendidik Soekarno

Rumah Peneleh: Tempat Lahirnya Jiwa Pancasila

Di tengah kehidupan yang penuh dengan perbedaan dan tantangan, ada sebuah rumah kecil di Peneleh Surabaya yang menjadi saksi bisu lahirnya jiwa Pancasila. Rumah itu adalah tempat tinggal H.O.S Tjokroaminoto, seorang tokoh pendidik yang tidak hanya mengajar tetapi juga membangun pikiran-pikiran besar melalui cara yang sederhana namun dalam.

Tidak seperti sekolah-sekolah pada masa itu, rumah Tjokroaminoto menawarkan pendidikan politik yang gratis tanpa biaya administrasi apapun. Murid-muridnya tidak hanya belajar teori, tetapi juga menerima nilai-nilai kebangsaan yang kuat. Dari sana, lahir para tokoh besar yang menjadi pelaku perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mereka beragam latar belakang, tapi semua memiliki satu tujuan: meraih kemerdekaan.

Gaya Mengajar yang Unik

Tjokroaminoto tidak mengajar dengan gaya formal atau serius. Ia lebih seperti seorang kiai kampung yang sedang ngalor ngidul. Di ruang tamu yang biasa saja, ia membicarakan gagasan-gagasan besar dengan bahasa yang mudah dipahami. Kadang ia bicara soal persatuan sambil mencomot pisang rebus, kadang menyindir kolonial dengan tawa ringan. Cara mengajarnya ini memberikan dampak besar, karena murid-muridnya belajar bahwa melawan bisa dilakukan dengan tenang dan bijak.

Dari pengajaran yang cair ini, lahir generasi pemimpin dengan visi yang beragam, tetapi tetap berakar pada satu cita-cita: Indonesia Merdeka. Ada yang membawa gagasan nasionalisme ke pentas politik, ada yang menjadikannya strategi perjuangan bersenjata, bahkan ada yang menyalurkannya ke panggung dunia. Semua berkat dari pelajaran sederhana di rumah Peneleh.

Kehidupan Sehari-hari yang Menjadi Teladan

Tjokroaminoto memiliki modal utama yang jarang dimiliki politisi zaman sekarang: kesabaran. Ia bisa mendengarkan lawan bicara sampai mereka kehabisan kata, lalu menanggapi dengan senyum tipis yang entah menenangkan atau justru membuat lawan berkeringat. Sebagai guru politik, ia mempraktikkan demokrasi bukan lewat pidato, tapi lewat teladan. Di hadapan murid-muridnya, ia tidak segan mencuci gelas sendiri atau mempersilakan tamu makan lebih dulu. Ini bukan soal rendah hati dalam teori, tapi kebiasaan yang mengakar.

Keberaniannya bukan ledakan kembang api yang riuh sesaat, melainkan bara kecil di tungku yang terus menghangatkan semangat. Ia bisa saja diam, tapi ketika bicara, kata-katanya cukup untuk mengguncang kursi kekuasaan. Tjokro memimpin Serikat Islam hingga menjadi organisasi rakyat terbesar di Hindia Belanda, mengkritik kebijakan kolonial tanpa kehilangan adab—membuktikan bahwa tajamnya pikiran tidak harus dibarengi tingginya nada suara.

Keberagaman sebagai Fondasi

Tjokroaminoto juga seorang penganyam keberagaman. Muridnya datang dari berbagai latar belakang: nasionalis, religius, bahkan yang kelak menjadi tokoh komunis. Semua ia rangkul tanpa memaksa untuk sama, karena baginya perbedaan hanyalah warna-warni kain yang akan jadi bendera besar bernama Indonesia. Beliau merupakan pribadi yang toleran, sabar, berani, rendah hati menjadi fondasi yang kelak menghidupi setiap sila dalam Pancasila.

Jika ingin menilai seseorang Pancasilais atau tidak, jangan tanya berapa kali dia ikut upacara bendera. Lihat bagaimana dia hidup. Tjokroaminoto, misalnya, tidak pernah menempelkan Pancasila di dinding ruang tamu apalagi di feed Instagram tapi menanamkannya di kepala murid-muridnya.

Nilai-Nilai yang Terbawa Sampai Hari Ini

Sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa, dihidupi Tjokro tanpa seremoni berlebihan. Ia mengajarkan agama bukan sebagai palu godam untuk memukul yang berbeda, melainkan sebagai lampu jalan yang menuntun dalam gelap. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, ia praktikkan dengan cara memuliakan tamu, entah itu pedagang pasar atau pemuda yang kelak jadi tokoh dunia.

Persatuan Indonesia? Itu sudah jelas. Rumahnya adalah laboratorium keberagaman: ada yang condong ke nasionalisme, ada yang kental keagamaan, ada juga yang miring ke kiri semuanya ia biarkan duduk satu tikar. Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, ia jalankan dengan metode sederhana: ngobrol sampai larut malam sambil ngemil, lalu memutuskan sesuatu tanpa teriak-teriak.

Dan sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, ia perjuangkan lewat Sarekat Islam organisasi yang membuka ruang bagi pedagang kecil sampai buruh tani untuk punya suara. Tjokro tahu betul, adil itu bukan memberi sama rata, tapi memberi sesuai kebutuhan. Kalau lapar ya dikasih nasi, bukan disuruh ikut rapat dulu.

Warisan yang Masih Terasa

Meskipun Tjokroaminoto tidak duduk di kursi BPUPKI ketika Pancasila resmi dirumuskan, kehadirannya justru berlipat ganda lewat para muridnya yang memenuhi kursi-kursi tersebut. Soekarno, misalnya, pernah jadi anak kos di rumahnya. Semangat persatuan dan keberagaman yang ia hirup di Peneleh terbawa sampai pidato 1 Juni 1945 yang melahirkan Pancasila.

Tjokro juga menanamkan tradisi berpikir kritis dan berorganisasi lewat Sarekat Islam. Dari sana, banyak tokoh belajar bahwa politik bukan sekadar rebutan kursi, tapi medan untuk menyejahterakan rakyat. Pemikiran ini merembes ke dalam naskah-naskah awal dasar negara, meski tidak semua orang sadar dari mana sumbernya.

Jika Pancasila diibaratkan pohon, Tjokro bukan tukang cat yang mewarnai daunnya, tapi petani yang menanam bibitnya jauh sebelum musim kemerdekaan tiba. Ia mengairinya dengan diskusi, memupuknya dengan keberanian, dan menjaga akarnya dengan nilai kemanusiaan. Maka wajar jika jejaknya tetap tercium di setiap sila, meskipun namanya jarang disebut di buku pelajaran.

Pesan untuk Generasi Sekarang

Dari gang sempit Peneleh, Tjokroaminoto mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak lahir dari orang yang sumbu pendek dan cuti nalar, melainkan dari mereka yang sabar merawat ide sampai matang. Ia bukan sekadar guru politik, tapi tukang servis nalar membetulkan yang bengkok, meluruskan yang miring, bahkan menyalakan kembali pikiran yang padam. Murid-muridnya boleh berbeda haluan, tapi semua membawa oleh-oleh nilai kemanusiaan yang ia tanamkan.

Jika hari ini kita masih ribut soal siapa yang paling Pancasilais, mungkin kita perlu ziarah ke rumah Peneleh itu, sekadar mengingat bahwa Pancasila bukan sekadar hafalan upacara, melainkan cara kita menata hidup bersama. Tjokro sudah membuktikan, persatuan itu tidak butuh palu godam, cukup meja kayu, obrolan panjang, dan keberanian untuk menerima perbedaan. Sayangnya, warisan ini bisa lapuk kalau kita menyerahkannya pada bani micin dan tuna pustaka yang lebih sibuk memvonis sesat ketimbang merawat bangsa.

Maka, sebelum kita teriak-teriak soal Pancasila di dunia maya, ada baiknya meniru laku Tjokro: buka pintu rumah, siapkan kursi seadanya, dengarkan orang bicara sampai tuntas, dan biarkan obrolan berjalan tanpa saling potong. Bangsa ini tidak roboh hanya karena berbeda pandangan, tapi akan ringkih kalau kita menutup telinga dan hati rapat-rapat.

Exit mobile version