Site icon Viral di Media

Mengungkap Strategi Gudang Garam Saat Laba Menurun 7,9%

Penurunan Volume Penjualan dan Laba Bersih Gudang Garam Tbk

PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mengakui bahwa kenaikan cukai rokok yang diberlakukan pemerintah memberikan dampak signifikan terhadap volume penjualan produknya pada paruh pertama tahun ini. Hal ini juga berdampak pada penurunan laba bersih perseroan, yang menjadi perhatian utama manajemen.

Direktur Gudang Garam, Heru Budiman, menyampaikan bahwa volume penjualan rokok di perusahaan turun sebesar 7,9% selama semester pertama 2025 dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Jumlah penjualan mencapai 112,8 miliar batang rokok, sedangkan pada paruh pertama tahun sebelumnya, angkanya mencapai 122,6 miliar batang. Menurut Heru, jika pemerintah kembali menaikkan tarif cukai rokok pada tahun 2025, maka perusahaan akan menyesuaikan harga jual produknya.

“Kami akan menaikkan harga, risikonya ya penurunan volume [penjualan],” ujar Heru dalam acara Public Expose Live 2025 di Bursa Efek Indonesia. Ia menilai bahwa kebijakan tersebut dapat memengaruhi daya beli konsumen.

Selain itu, Heru mencermati adanya pergeseran perilaku konsumen terhadap produk rokok ilegal. Masyarakat cenderung beralih ke Sigaret Kretek Mesin (SKM) ilegal yang tidak dikenai cukai. Meski tarif cukai SKT tiga kali lebih rendah dibandingkan SKM, segmen ini tetap mengalami penurunan volume penjualan.

Pemerintah saat ini tengah gencar melakukan upaya untuk mengendalikan tingkat konsumsi rokok di masyarakat. Beberapa langkah yang dilakukan antara lain peningkatan tarif cukai dan larangan penjualan rokok secara eceran. Kebijakan ini didasarkan pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 191/PMK.010/2022 tentang Perubahan Kedua atas PMK 192/PMK.010/2021 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT).

Berdasarkan regulasi tersebut, harga jual minimal per batang dan tarif cukai naik, sehingga harga rokok per bungkus menjadi lebih mahal. Rata-rata kenaikan cukai rokok mencapai 10% pada tahun 2023 dan 2024.

Penurunan Laba Bersih dan Pendapatan

Laba bersih Gudang Garam Tbk pada semester pertama 2025 mengalami penurunan signifikan. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hanya mencapai Rp 117,16 miliar, turun 87,34% dibandingkan laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 925,51 miliar.

Pendapatan perusahaan juga mengalami penurunan sebesar 11,30%, dari Rp 50,01 triliun menjadi Rp 44,36 triliun. Beban pokok pendapatan juga turun dari Rp 44,95 triliun menjadi Rp 40,58 triliun.

Penurunan pendapatan terjadi di berbagai segmen bisnis, antara lain:
– Sigaret kretek mesin: dari Rp 44,53 triliun menjadi Rp 39,73 triliun
– Sigaret kretek tangan: dari Rp 4,90 triliun menjadi Rp 3,94 triliun
– Rokok klobot: dari Rp 5,45 miliar menjadi Rp 4,19 miliar
– Kertas karton: dari Rp 472,63 miliar menjadi Rp 402,07 miliar
– Pendapatan lainnya: dari Rp 103,4 miliar menjadi Rp 31,04 miliar

Namun, Gudang Garam berhasil mendapatkan pendapatan dari segmen konstruksi sebesar Rp 245,32 miliar, yang tidak diperoleh pada semester pertama tahun sebelumnya.

Pertanyaan Mengenai Dividen Tahun Buku 2025

Menanggapi pertanyaan mengenai yield dividen untuk tahun buku 2025, Heru belum dapat memberikan jawaban pasti. Ia juga tidak menjelaskan apakah perseroan akan tetap membagikan dividen atau tidak untuk tahun buku ini.

Pada tahun buku 2024, Gudang Garam membagikan dividen sebesar Rp 962 miliar, atau sekitar 98% dari total laba bersih tahun buku 2024. Investor mendapatkan Rp 500 per saham. Sementara itu, pada tahun buku 2023, perseroan memutuskan tidak membagikan dividen karena laba bersih digunakan untuk menambah modal kerja.

Harga saham Gudang Garam Tbk pada perdagangan Jumat (12/9) ditutup naik 0,57% atau 50 poin ke level 8.850. Selama satu bulan terakhir, saham GGRM naik 2,92%, namun terkoreksi sebanyak 32,44% sejak awal tahun.

Exit mobile version