Angka Kematian Jemaah Haji Indonesia di Arab Saudi dan Pentingnya Persiapan Kesehatan
Angka kematian jemaah haji Indonesia yang meninggal saat menjalankan ibadah haji 2025 mencapai 447 jiwa. Dengan angka tersebut, Indonesia menjadi negara dengan jumlah jemaah haji yang wafat terbanyak selama pelaksanaan ibadah haji tahun ini. Hal ini disampaikan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam penutupan operasional penyelenggaraan haji 2025 di Jakarta pada Senin, 14 Juli 2025.
Menurut data dari Kepala Bidang Kesehatan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Mohammad Imran, selama proses penyelenggaraan ibadah haji, sebanyak 1.710 orang jemaah Indonesia dirawat inap di Arab Saudi. Diagnosis yang paling umum adalah pneumonia, diabetes melitus, dan penyakit paru obstruktif kronis. Selain itu, data farmasi menunjukkan bahwa sebanyak 12.396 layanan penggunaan obat terbanyak berasal dari tablet flu batuk kombinasi.
Pada hari ke-39 operasional penyelenggaraan haji, yaitu 8 Juni 2025, petugas PPIH Arab Saudi mencatat ada 175 anggota jemaah Indonesia yang wafat. Beberapa penyakit yang sering dialami oleh jemaah haji Indonesia yang meninggal antara lain penyakit jantung, pernapasan akut, dehidrasi, dan kegagalan organ akibat infeksi berat.
Pentingnya Vaksin RSV untuk Jemaah Lansia
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tjandra Yoga Aditama menyatakan bahwa vaksin Respiratory Syncytial Virus (RSV) sangat penting bagi jemaah calon haji lansia. Vaksin ini digunakan untuk mencegah penyakit saluran pernapasan bawah yang disebabkan oleh virus RSV. Menurut Tjandra, vaksinasi RSV penting terutama untuk pasien dengan komorbid dan kelompok rentan lainnya karena infeksi RSV dapat menyebabkan pneumonia dan bronkiolitis berat, terutama pada lansia dan individu dengan penyakit kronis.
Kini, vaksin RSV, pneumonia, dan influenza sudah masuk ke dalam rekomendasi vaksinasi yang dapat diberikan kepada jemaah calon haji dan umrah. Sementara vaksinasi meningitis telah menjadi bagian dari persyaratan wajib bagi jemaah. Vaksin RSV direkomendasikan karena tingginya risiko penularan di lingkungan padat seperti saat umrah. Vaksin ini juga masuk ke dalam program imunisasi nasional di Arab Saudi untuk populasi lansia.
Risiko Penyebaran Penyakit di Negara Empat Musim
Vaksinolog Dirga Sakti Rambe menjelaskan bahwa beribadah haji atau umrah sama seperti liburan bersama keluarga atau perjalanan ke negara empat musim yang meningkatkan risiko penyebaran penyakit. Contohnya, ketika menggunakan transportasi umum seperti pesawat, bus, atau kereta dan fasilitas umum tertutup lainnya. RSV dapat menyebar melalui inhalasi droplet pernapasan atau kontak dengan sekresi pernapasan dari orang yang terinfeksi.
Jika lansia terinfeksi maka dapat terjadi efek sedang hingga berat seperti terkena pneumonia atau bronkiolitis. Orang yang melakukan kontak erat atau serumah dengan pasien RSV dapat enam kali lebih besar tertular RSV. Waktu pengobatan RSV rata-rata tujuh hari untuk rawat inap dan tiga hari pada kunjungan IGD atau rawat jalan. Bagi kelompok lansia di atas 75 tahun, RSV dapat menyebabkan pasien yang lepas perawatan rumah sakit memerlukan perawatan profesional lanjutan di rumah.
Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Jemaah
Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) menyatakan ada sejumlah faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan jemaah calon haji atau umrah baik sebelum maupun ketika dalam perjalanan. Faktor-faktor tersebut antara lain perbedaan kondisi lingkungan di Arab Saudi, seperti suhu udara yang sangat panas atau dingin, kering dan rendahnya kelembapan udara, debu beterbangan dan tanah berpasir, serta kondisi geografi dan iklim di sana. Kepadatan ekstrem saat beribadah juga dikhawatirkan akan meningkatkan risiko penularan penyakit infeksi di antara sesama jemaah.
Selama berada di dalam pesawat, jemaah rentan terhadap penularan virus. Jadwal ibadah yang padat dan durasinya jauh berbeda dari kebiasaan harian di Indonesia juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Untuk antisipasi sejak awal, AMPHURI menyarankan agar jemaah calon haji atau umrah memeriksakan kesehatannya secara maksimal empat pekan sebelum keberangkatan untuk mengetahui kesiapan tubuh. Jika ada masalah, segera konsultasikan pada dokter supaya tidak mengganggu ibadah.
Endy M. Astiwara menekankan bahwa vaksinasi menjadi upaya preventif untuk melindungi diri dari penyakit agar ibadah menjadi lebih aman dan nyaman. Selain itu, jemaah calon haji dan umrah tidak boleh lupa menyiapkan obat yang dibutuhkan untuk perjalanan. Pastikan pula membawa kelengkapan dokumen seperti riwayat kesehatan dan diletakkan dalam satu tas khusus agar mudah dicari saat dibutuhkan.