Sejarah Panjang Vila Isola di Balik Gedung Rektorat UPI Bandung
Di balik megahnya gedung rektorat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, tersembunyi sebuah bangunan bernama Vila Isola. Bangunan berwarna putih ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak 2009 sesuai Perda Kota Bandung No. 19/2009. Tidak hanya memiliki nilai estetika tinggi, Vila Isola juga menyimpan sejarah penting perkembangan kota Bandung dari masa kolonial hingga saat ini.
Vila Isola dibangun pada era Hindia Belanda sebagai hunian mewah bagi tokoh pers yang kaya raya. Awalnya dikenal sebagai Vila Berretty, bangunan ini kemudian berganti nama menjadi Vila Isola. Nama Isola berasal dari falsafah pendirinya, Dominique Willem Berretty, yang mengatakan “M Isolo E Vivo” yang berarti “Saya mengasingkan diri dan saya bertahan hidup”. Selain itu, kata Isola juga merujuk pada kesan bangunan yang menjadi satu-satunya bangunan besar dan tinggi di dekat Jalan Raya Lembang.
Dibangun oleh Pendiri Tokoh Pers
Vila Isola dibangun oleh Dominique Willem Berretty, seorang jurnalis di Java Bode sekaligus pendiri perusahaan berita Algemeen Nieuws en Telegraaf Agentschap (ANETA). Pengusaha berdarah Italia-Jawa ini merupakan miliarder pada masa itu. Ia memilih kawasan Bandung Utara untuk membangun tempat hunian saat berlibur. Berretty mempercayakan rancangan villanya kepada arsitek jenius asal Belanda, C. P. Wolff Schoemaker.
Berretty memilih Bandung Utara karena udaranya yang sejuk dibanding Batavia. Selain itu, ia juga menimbang kebutuhan adanya hunian di Bandung yang digadang-gadang sebagai ibu kota Hindia Belanda baru. Bangunan yang menghabiskan biaya 500 ribu gulden ini bisa terlihat dari lantai dua gedung di Jalan Braga, dengan lanskap Gunung Burangrang dan Gunung Tangkuban Perahu di belakangnya.
Dari Vila ke Markas Militer
Berretty tidak lama menempati Vila Isola. Ia meninggal dalam kecelakaan pesawat saat sedang dalam perjalanan dari Amsterdam menuju Batavia. Setelah itu, vila megah buatan Wolff Schoemaker dibeli oleh Hotel Savoy Homann pada 1935. Sejak dikelola oleh hotel tersebut, vila ini tidak lagi disebut sebagai Vila Berretty melainkan Vila Isola.
Pada 1942, Jepang datang ke Indonesia dan menjadikan Vila Isola sebagai tempat tinggal Jenderal Hitoshi Imamura. Saat itu, sang jenderal memiliki tugas untuk memindahkan kekuasaan Belanda ke Jepang di Kalijati, Subang, pada 8 Maret 1942. Namun, Jenderal Hitoshi Imamura tidak lama menempati vila itu. Setelah Kota Nagasaki dan Hiroshima di bom, pemuda Indonesia di Kota Bandung melakukan perlawanan untuk meraih kemerdekaan. Vila Isola pun dijadikan sebagai markas pejuang kemerdekaan di Kota Bandung. Salah satu peristiwa sejarah, yaitu Bandung Lautan Api, turut berkontribusi atas sejarah panjang Vila Isola.
Dikagumi Moh. Yamin
Pasca-kemerdekaan, bangunan ini menarik perhatian Moh. Yamin yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan Pengajaran. Yamin berkunjung ke Vila Isola untuk menyusuri jejak historis sekaligus mengagumi lanskap Kota Bandung yang terlihat dari sisi selatan bangunan tersebut. Ia akhirnya mencetuskan nama baru bagi Vila Isola, yaitu Bumi Siliwangi.
Nama baru bagi Vila Isola didasari penghargaan Yamin kepada para pejuang kemerdekaan Indonesia. Karena takjub terhadap indahnya pemandangan Bandung kala itu dilihat dari Vila Isola, ia sampai membuat soneta berjudul “Bumi Siliwangi”. Akhirnya, vila tersebut dibeli oleh Pemerintah Indonesia seharga Rp 1,5 juta pada 1954 untuk dijadikan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) di Bandung.
Dari Vila Terisolasi ke Gedung Rektorat UPI
Pada awal digunakan, Sadarjoen yang merupakan Dekan PTPG melakukan renovasi dan perbaikan bangunan vila bekas perang untuk memperjuangkan kemerdekaan. Ia meminta izin kepada Departemen Pekerjaan Umum untuk menambah satu lantai yang digunakan sebagai ruang rapat. Meski ada perdebatan terlebih dahulu, permintaan Sadarjoen dikabulkan dan sampai saat ini Vila Isola memiliki lima lantai.
Dari vila terisolasi milik Berretty hingga menjadi Gedung Rektorat UPI, bangunan putih bergaya streamline moderne dengan elemen art deco ini nyaris tak berubah. Hanya satu lantai yang ditambahkan, taman-tamannya dipercantik, dan kolam-kolamnya tetap dirawat. Perubahan justru lebih tampak pada lingkungan sekitar dengan hadirnya gedung fakultas, masjid Al-Furqon, serta berbagai fasilitas kampus lainnya. Sebagai salah satu karya terbaik C.P. Wolff Schoemaker, Vila Isola tidak hanya menyimpan jejak sejarah panjang Indonesia, tetapi juga terus hidup sebagai simbol pendidikan dan warisan budaya di Kota Bandung.