Pendidikan Jurnalisme di Tengah Perubahan Digital
Pendidikan jurnalisme kini tengah menghadapi tantangan besar akibat dinamika kebutuhan industri dan perkembangan teknologi digital. Di berbagai kampus, termasuk di Indonesia, wacana tentang relevansi pendidikan jurnalisme semakin mengemuka. Kampus-kampus dianggap masih mengajarkan praktik jurnalisme cara lama yang tidak sesuai dengan lingkungan digital saat ini.
Praktik jurnalisme yang diterima selama ini sering kali menafikan situasi lingkungan digital yang identik dengan kecepatan, kemenarikan, keringkasan, serta konten yang dapat dibagikan lintas platform pada media sosial. Dengan demikian, pendidikan jurnalisme saat ini menghadapi tuntutan untuk menghasilkan tenaga kerja siap pakai yang mampu memenuhi kebutuhan industri. Namun, sebagai pengajar media dan jurnalisme, kami percaya bahwa pendidikan jurnalisme seharusnya menghasilkan lulusan yang memberikan warna pada media.
Harapan kami adalah bahwa pendidikan dapat mengembalikan esensi jurnalisme pada apa yang khalayak perlu tahu, bukan hanya ingin tahu. Terlebih di tengah industri yang semakin kapitalis dan tidak jarang merugikan kepentingan publik.
Tantangan Pendidikan Jurnalisme
Untuk tetap relevan dengan tantangan media digital, kurikulum pendidikan jurnalisme perlu mempertimbangkan tiga isu utama yakni teknologi, profesi, dan produksi.
- Tantangan Teknologi
Praktik jurnalisme menghadapi apa yang disebut “senja kala media”. Ini diawali dengan tutupnya media cetak dan peralihannya ke media online. Hal ini tidak lepas dari rendahnya keterbacaan konten berita. Turunnya industri penyiaran konvensional ditandai dengan tutupnya beberapa stasiun televisi yang diikuti dengan layoff besar-besaran.
Sementara itu, berbagai produk media sosial menunjukkan perkembangan pesat, misalnya jumlah podcast yang semakin menjamur. Kehadiran platform media sosial seperti TikTok dan YouTube juga melahirkan produk jurnalisme baru seperti podcast jurnalistik, mobile journalism, dan lain-lain.
Media sosial membuat jurnalisme menjadi lebih personal. Media harus berinteraksi dengan audiens melalui kolom komentar, menanggapi pressure dari audiens serta melakukan gimmick agar selalu diingat publiknya. Misalnya dengan memberikan give away atau upaya-upaya lain yang digunakan untuk menjaga kedekatan serta interaktivitas.
Bentuk jurnalisme yang berubah menjadi sangat personal ini menunjukkan bagaimana emosi, informalitas, keintiman digital dapat meredefinisi serta mereduksi praktik maupun persepsi jurnalisme di era digital.
- Tantangan Profesi
Sebelum era internet, jurnalis dianggap sebagai satu-satunya sumber dan pembentuk informasi. Setelah lahirnya internet dan media sosial, jurnalis kehilangan keistimewaan sebagai informan disaingi oleh kehadiran citizen journalism.
Demokratisasi media ini memunculkan profesi baru yaitu kreator konten yang sering dianggap sama dengan jurnalis. Bahkan, lowongan awak redaksi justru lebih banyak membutuhkan kreator konten atau video creator.
Jurnalis bukanlah kreator konten. Sebab, kreator konten tidak bekerja dengan mindset, konsep dasar, dan etika jurnalis yang mengandung aspek etis, skill, dan kritis. Parameter content creator adalah engagement bukan kedalaman informasi.
- Tantangan Produksi
Hadirnya teknologi yang menghasilkan analisis big data, AI serta berbagai fasilitas serupa mempermudah kerja jurnalis. Kehadiran media sosial dan turunannya juga membuat proses produksi newsroom yang bertahap, bertingkat dan formal berubah menjadi lebih singkat dan pendek.
Ringkasnya proses produksi informasi dan berita melalui media sosial membuat populisme makin tumbuh subur karena politisi akan lebih memilih berbicara di podcast daripada harus melewati serangkaian prosedur rumit untuk tampil di media berita konvensional.
Pendidikan Jurnalisme yang Relevan
Dalam konteks pendidikan jurnalisme, kampus-kampus perlu memikirkan bagaimana mentransfer pengetahuan kepada mahasiswa tentang idealisme jurnalisme yang tidak harus larut dengan logika industri. Mahasiswa jurnalisme harus sadar bahwa banyak kelompok yang dimarjinalkan oleh media, isu-isu yang tidak pernah disentuh karena tidak selaras dengan algoritma, ataupun penulisan-penulisan yang dangkal agar ramah SEO.
Mereka juga harus paham bahwa jurnalis perlu dilindungi tidak hanya fisiknya tetapi juga ideologinya. Kehadiran media sosial dalam lingkungan digital terkadang justru kontraproduktif dengan berbagai esensi tersebut.
Tentu, perdebatan tentang bagaimana kurikulum jurnalisme harusnya dikembangkan di kampus-kampus tidak akan pernah tuntas. Namun, kesadaran bahwa ada banyak ruang abu-abu yang hadir, dapat menjadi alarm bagi semua bahwa mencetak jurnalis yang sadar terhadap esensi jauh lebih penting dari sekadar memenuhi ekspektasi industri.