Kisah Muda W R Supratman di Makassar dan Lahirnya Indonesia Raya

Peran Makassar dalam Kehidupan Wage Rudolf Supratman

Di tengah peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus, lagu “Indonesia Raya” kembali menggema di seluruh penjuru negeri. Lagu ini tidak hanya menjadi simbol kebanggaan nasional, tetapi juga membangkitkan semangat persatuan dan nasionalisme. Namun, banyak yang tidak menyadari bahwa kota Makassar memiliki peran penting dalam membentuk jiwa dan bakat Wage Rudolf Supratman, sang pencipta lagu kebangsaan.

Wage Rudolf Supratman lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 19 Maret 1903. Ayahnya adalah Djoemeno Senen Sastrosoehardjo, seorang sersan tentara KNIL, sedangkan ibunya bernama Siti Senen. Sejak kecil, ia menunjukkan bakat musik yang luar biasa. Masa remajanya dihabiskan di Makassar, Sulawesi Selatan, bersama kakak iparnya, Willem van Eldik. Di sana, ia mendapatkan pendidikan formal dan mulai mengembangkan minatnya pada musik. Willem van Eldik, seorang pemain biola, mengajarkan W.R. Supratman cara bermain biola dan memberinya alat musik tersebut sebagai hadiah. Alat musik ini menjadi sahabat setianya dalam menciptakan karya-karya revolusioner.

Perjalanan Karier dan Perjuangan WR Supratman

Sebelum dikenal sebagai komponis, W.R. Supratman adalah seorang jurnalis yang gigih. Ia pernah bekerja di surat kabar “Kaum Kita” dan “Fajar Asia.” Melalui tulisan-tulisannya, ia mengkritik kebijakan kolonial dan menyuarakan aspirasi rakyat Indonesia.

Pada 1928, ia membaca sebuah artikel yang menantang para musisi Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan. Terinspirasi oleh semangat persatuan, ia mulai menggubah melodi dan lirik “Indonesia Raya.” Lagu ini pertama kali diperdengarkan secara instrumental menggunakan biolanya pada penutupan Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, di Jakarta. Momen ini menjadi puncak, di mana lagu tersebut diterima dengan antusias dan menjadi simbol semangat Sumpah Pemuda.

Setelah lagu “Indonesia Raya” menjadi populer, W.R. Supratman menjadi target intelijen Belanda. Ia ditangkap dan dipenjara beberapa kali. Pada tahun 1938, kesehatannya menurun drastis dan ia meninggal dunia di Surabaya pada 17 Agustus 1938, tepat 7 tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kematiannya begitu tragis, namun karyanya tetap abadi.

Karya Lain Selain Indonesia Raya

Selain “Indonesia Raya” yang legendaris, W.R. Supratman juga menciptakan beberapa lagu perjuangan lainnya yang tidak kalah penting dalam membangkitkan semangat nasionalisme:

  • “Di Timur Matahari”: Lagu ini diciptakan untuk mengenang para pejuang yang gugur. Melodinya penuh semangat dan menginspirasi perjuangan.
  • “Ibu Kita Kartini”: Diciptakan sebagai penghormatan kepada R.A. Kartini, pahlawan emansipasi wanita. Lagu ini sering dinyanyikan di sekolah-sekolah dan menjadi lagu wajib pada peringatan Hari Kartini.
  • “Pada Pahlawan”: Lagu ini diciptakan untuk mengenang dan menghormati jasa para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan bangsa.
  • “Mars Kemerdekaan”: Salah satu lagu perjuangan yang penuh semangat, diciptakan untuk menyemangati para pejuang Indonesia.

Penghargaan dan Warisan

W.R. Supratman adalah sosok yang membuktikan bahwa perjuangan tidak selalu harus dengan kekerasan. Dengan biola, pena, dan semangat yang membara, ia telah menorehkan sejarah yang takkan terlupakan. Lagu “Indonesia Raya” bukan sekadar lagu, melainkan sumpah abadi yang terus berkumandang, mengingatkan kita akan arti sebuah kemerdekaan.

Setiap kali kita menyanyikan lagu ini, kita tidak hanya menghormati bendera Merah Putih, tetapi juga mengenang jasa besar Wage Rudolf Supratman, sang pahlawan yang menginspirasi lahirnya sebuah bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *