Profil Aksaraya, Aplikasi Belajar yang Dihargai Apple di Hari Kemerdekaan ke-80

Aksaraya: Aplikasi untuk Melestarikan Aksara Jawa

Aksaraya lahir dari keinginan orang-orang yang ingin mempelajari aksara Jawa, tetapi merasa kesulitan. Aplikasi ini dikembangkan oleh Muhammad Naratama Memontifada Krismawan bersama teman-temannya hingga akhirnya tersedia di toko aplikasi Apple, App Store. Menurut Naratama, pelajaran menulis aksara biasanya hanya menjadi materi muatan lokal dari tingkat sekolah dasar hingga menengah atas maupun di komunitas.

“Ada beberapa komunitas yang masih menggunakan aksara Jawa dalam kehidupan sehari-hari,” katanya dalam wawancara daring. Menurut Naratama, yang juga merupakan pendiri sekaligus manajer produk Aksaraya, aksara Jawa hanya familiar di wilayah yang memiliki penutur asli, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta. Kini, aksara Jawa hanya muncul dalam acara budaya.

Berbeda dengan Thailand, di mana aksara Thai digunakan sehari-hari dan bahkan diadaptasi dalam papan ketik. Ide pembuatan Aksaraya muncul saat Naratama sibuk menyelesaikan tugas akhir dari Apple Developer Academy di Batam pada 2020. Ia dan empat temannya menghabiskan dua bulan untuk mengembangkan aplikasi tersebut. Mereka kemudian mempresentasikan sistem itu dalam sebuah acara pemerintah. “Kami lanjutkan pengembangannya selama enam bulan lagi,” ujarnya.

Aksaraya bukanlah konsep baru. Menurut Naratama, sudah ada aplikasi lain yang menyertakan keyboard khusus untuk aksara Jawa. Sebagai keturunan orang Jawa, ia kaget mengetahui bahwa aplikasi kompetitor dibuat oleh orang Belanda dan berbayar. Ia pun bertekad menyediakan layanan aksara Jawa secara gratis, termasuk menyediakan papan ketiknya.

Gamifikasi dan Tantangan Belajar

Aplikasi ini menambahkan gamifikasi atau alur permainan, serta tantangan belajar seperti pada Duolingo dan Candy Crush. Pengguna harus menyentuh layar sambil mengikuti alur pembentukan aksara. Dengan fitur ini, belajar aksara Jawa menjadi lebih menarik dan interaktif.

Standar penggunaan aksara di Aksaraya mengikuti hasil Kongres Aksara Jawa yang diadakan setiap tahun. Tim pengembang tidak secara langsung terlibat, hanya menerima salinan aksara resmi yang akan diadaptasi, termasuk pada keyboard. “Setiap tahun mungkin ada sedikit perubahan,” ujarnya.

Model keyboard digital Aksaraya dilengkapi dengan komponen dan beragam tanda baca, serta angka aksara Jawa. Layanan ini bisa diatur sebagai default pada iPhone dan iPad. Huruf atau kalimat dari papan ketik itu juga tetap kompatibel jika disalin tempel, misalnya untuk terjemahan di Google Translate. “Di aplikasinya sudah diberi tutorial cara penggunaan,” tambah Naratama.

Peningkatan Ke Aksara Lain

Naratama bersama timnya—yang kini berjumlah tujuh orang—berencana menambahkan aksara Sunda, Bali, Batak, Bugis, dan Lampung. Tim juga berupaya agar aplikasi ini tersedia di Google Play Store.

Meski belum berencana mengadopsi AI ke dalam aplikasi, papan ketik Aksaraya telah memiliki fitur stroke-correction dan machine learning untuk mengoreksi tulisan secara otomatis. “Jujur, belum terpikir soal penerapan AI, tapi kepikirannya ke Augmented Reality (AR) atau Virtual Reality (VR),” ujarnya.

Promosi dan Pengenalan Aksaraya

Naratama merasa promosi Aksaraya masih bisa digenjot agar lebih dikenal oleh publik. Pengenalan aplikasi ini masih bergantung kepada komunitas-komunitas, seperti sanggar tari dan musik. Meskipun begitu, kehadiran Aksaraya di App Store sudah disoroti Apple dalam peringatan HUT ke-80 RI.

Aplikasi pendidikan bahasa ini dianggap telah ikut melestarikan dan mempromosikan kebudayaan Indonesia. Sejauh ini, Aksaraya sudah diunduh lebih dari 100 ribu pengguna. “Semoga dengan peningkatan ini banyak pengguna aksara, minimal untuk media sosial dulu,” harap Naratama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *