Belajar Membatik di Desa Wanurejo Borobudur

Pengalaman Unik Mengenal Batik di Sekitar Candi Borobudur

Berwisata ke Candi Borobudur tidak akan lengkap jika tidak menjelajahi desa-desa wisata sekitarnya. Salah satu pengalaman menarik yang bisa dicoba adalah dengan mengikuti perjalanan menggunakan VW Safari Borobudur. Selain menikmati pemandangan indah dari dalam mobil klasik, para wisatawan juga bisa merasakan sensasi belajar membatik di Omah Batik Lumbini.

Tempo memiliki kesempatan untuk belajar membatik dalam sebuah media trip bersama Traveloka pada 12 Agustus 2025. Di lokasi tersebut, tersedia tiga kelompok bangku kecil lengkap dengan kompor kecil, wajan berisi lilin, serta canting. Adi Winarto, pemilik Rumah Batik Lumbini, dan timnya telah menyiapkan kain putih berukuran 30×30 sentimeter yang sudah diberi sketsa motif batik stupa dan mandala. Kedua motif ini menjadi ciri khas batik yang diproduksi di sekitar Candi Borobudur.

Motif stupa dipilih karena bentuknya lebih sederhana dibandingkan mandala. Sebelum memulai proses membatik, Rita Suciarti dari tim Omah Batik Lumbini memberikan dua kertas sebagai alas yang ditempatkan di paha kanan dan kiri. Setelah itu, ia menyarankan agar kain batik ditempatkan dalam posisi vertikal di atas paha kiri. Hal ini dimaksudkan agar proses mencanting menjadi lebih mudah.

Rita kemudian mencontohkan cara membatik secara langsung. Mulai dari mengisi canting, menghilangkan sisa lilin di alas kertas, lalu secara perlahan menorehkan lilin di atas kain. Ia menekankan agar tidak terburu-buru dan melakukan langkah demi langkah. “Supaya lilinnya tembus ke bagian belakang (sisi kain),” ujarnya.

Selain posisi kain yang vertikal, proses menorehkan lilin dilakukan dari sisi kiri dan kanan. Dengan memutar kain searah jarum jam, motif bisa dibentuk di sisi lainnya. Setelah motif terbentuk, tahap selanjutnya adalah pewarnaan yang dilakukan oleh tim Omah Batik Lumbini. Hasilnya bisa dibawa pulang oleh peserta.

Biaya untuk membatik bervariasi. Jika hanya menggunakan satu warna, biayanya sebesar Rp 40 ribu. Sedangkan untuk beberapa warna, biayanya mencapai Rp 60 ribu.

Sejarah dan Tujuan Omah Batik Lumbini

Omah Batik Lumbini berdiri sejak tahun 2011. Nama Lumbini berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya indah. Awalnya, rumah batik ini dibangun sebagai upaya konservasi budaya. “Karena banyak generasi muda yang tidak mengenal batik di wilayah ini,” kata Adi Winarto.

Hingga saat ini, Omah Batik Lumbini telah memproduksi ribuan kain batik. Selain dapat dibeli langsung, batik yang diproduksi juga dipasarkan di hotel-hotel yang bekerja sama sejak lama. Motif batik yang menjadi ciri khas adalah gajah atau liman, kalpataru, kinara dan kinari, serta Borobudur lawas. “Ini menjadi ciri khas, batik Borobudur tidak akan kembar di mana-mana, dicari di Yogya pasti tidak ada,” ujarnya.

Pelatihan dan Antusias Membatik

Selain menyediakan pengalaman membatik bagi wisatawan, Adi juga memberikan pelatihan kepada siswa sekolah dan masyarakat di desa lain. Terakhir, ia dan timnya memberikan pelatihan kepada anak-anak muda di Desa Kembanglimus.

Sayangnya, jumlah kunjungan wisatawan ke Omah Batik Lumbini menurun drastis setelah pandemi. Menurut Adi, sebelum pandemi, bulan Juli-Agustus menjadi waktu puncak kunjungan. Namun, saat ini hanya sedikit saja pengunjung yang datang. “Kemarin satu hari cuma satu dari Jepang, satu orang. Kemarinnya juga cuma satu dari Jerman,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *