Solusi Transportasi Laut untuk Pariwisata Berkelanjutan di Bali
Bali, yang dikenal sebagai destinasi wisata internasional, menghadapi tantangan besar dalam hal kemacetan lalu lintas. Pertumbuhan kendaraan yang pesat dan tidak seimbang dengan pengembangan infrastruktur jalan raya menyebabkan kepadatan yang sangat signifikan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2024 jumlah kendaraan di Bali mencapai 5,2 juta unit, dengan sebagian besar berupa sepeda motor (4,5 juta unit), mobil penumpang (544.460 unit), truk (188.199 unit), dan bus (15.981 unit). Hal ini memicu kebutuhan akan solusi transportasi alternatif yang efektif.
Salah satu inisiatif yang sedang dikembangkan adalah layanan water taxi. Program ini merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam meningkatkan mobilitas masyarakat dan mendukung pariwisata berkelanjutan. Water taxi dianggap menjadi solusi yang tepat untuk mengurangi beban lalu lintas darat di kawasan pariwisata, terutama di wilayah seperti Denpasar dan kota-kota lainnya yang sering mengalami kemacetan.
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) dan Injourney Airports telah sepakat untuk menyusun kajian pengembangan water taxi. Kajian ini bertujuan untuk memastikan implementasi layanan tersebut dapat memberikan manfaat optimal bagi masyarakat dan pariwisata Bali. Proses ini mencakup aspek bisnis, sosial-budaya, serta keberlanjutan agar hasilnya bisa memberikan dampak nyata.
Wakil Direktur Utama ASDP, Yossianis Marciano, menjelaskan bahwa partisipasi perusahaan dalam kajian ini adalah bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah dalam membangun ekosistem transportasi maritim yang lebih inklusif. “Dengan spirit melayani dan menghubungkan nusantara, ASDP ingin memastikan bahwa setiap inisiatif transportasi laut dapat memberikan nilai tambah bagi pariwisata Indonesia serta mendorong tumbuhnya lapangan kerja baru,” ujarnya.
Kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah juga menjadi kunci dalam suksesnya program ini. Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Wilayah (Kemenko Infrawil) memegang peran koordinasi lintas sektor, sementara Kementerian Perhubungan bertanggung jawab atas kebijakan transportasi. Di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, pemerintah Bali juga berperan dalam integrasi daerah.
Water taxi diharapkan menjadi moda transportasi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dengan adanya layanan ini, arus wisatawan dapat terbagi lebih merata, sehingga mengurangi kepadatan menuju bandara dan memperluas akses perjalanan laut yang nyaman. Efisiensi mobilitas ini diproyeksikan akan meningkatkan belanja wisatawan sekaligus mendorong pertumbuhan usaha kecil dan menengah di sektor pariwisata.
VP Komersial ASDP Rizki Dwianda menambahkan bahwa saat ini ASDP bersama Injourney Airports sedang menyusun kajian bisnis dan sosial budaya untuk memastikan implementasi water taxi memberikan multiplier effect yang optimal. “Kajian ini penting agar setiap langkah yang diambil benar-benar memberikan manfaat maksimal, baik dalam penciptaan lapangan kerja, peluang usaha baru, maupun peningkatan pendapatan masyarakat lokal,” ujarnya.
Selain itu, kehadiran water taxi juga diharapkan dapat mempercepat perputaran ekonomi dan memperluas distribusi logistik. Arus perjalanan yang lebih lancar akan membantu mengurangi tingkat kemacetan yang selama ini berdampak pada kegiatan usaha masyarakat lokal.
Langkah penyusunan kajian ini sejalan dengan visi pemerintah pusat dalam memperkuat konektivitas maritim nasional yang inklusif, efisien, dan berdaya saing. Dengan demikian, water taxi bukan hanya menjadi solusi transportasi, tetapi juga penggerak pertumbuhan ekonomi baru di seluruh wilayah Indonesia.