IESR: Tiga Alasan NDC Kedua Indonesia Harus Berani

Persiapan Indonesia untuk COP30: Menyusun SNDC yang Lebih Ambisius

Dalam menyambut perhelatan Conference of Parties (COP)30, sebanyak 99 negara penandatangan Persetujuan Paris telah menyerahkan dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) sebagai bentuk komitmen mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dan menahan laju pemanasan global. Di tengah proses ini, Indonesia sedang dalam tahap penyusunan dokumen Second Nationally Determined Contribution (SNDC). Dokumen ini akan menjadi acuan aksi iklim Indonesia pada periode 2031-2035.

Komitmen SNDC yang ambisius diharapkan dapat memperkuat pengaruh Indonesia dalam diplomasi global, meningkatkan daya saing ekonomi, serta menjaga kedaulatan nasional. CEO Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menekankan pentingnya Indonesia menunjukkan komitmen iklim yang responsif terhadap krisis iklim saat ini.

“Konsensus ilmiah sudah jelas. Kita harus mencapai puncak emisi global secepatnya dan melakukan penurunan besar-besaran dalam dekade ini agar target kenaikan suhu 1,5 derajat tetap dapat tercapai,” ujarnya. Ia menilai, sebagai negara berkembang dan pemain utama dalam emisi global, Indonesia memiliki tanggung jawab moral dan eksistensial untuk bertindak tegas. Oleh karena itu, IESR terus mendorong agar SNDC Indonesia disusun secara lebih ambisius.

Tiga Pilar Dasar Penyusunan SNDC yang Ambisius

Menurut Fabby Tumiwa, ada tiga pilar utama yang menjadi dasar penentuan SNDC yang ambisius. Pertama, investasi pada kedaulatan nasional. NDC yang kuat akan melindungi masyarakat pesisir, menjamin ketahanan pangan, air, dan energi, serta memperkuat daya tahan nasional terhadap bencana.

Kedua, menciptakan peluang ekonomi. Analisis IESR menunjukkan bahwa bauran energi terbarukan Indonesia perlu mencapai setidaknya 40% pada tahun 2030 dan sekitar 55% pada tahun 2035. Target yang ambisius dapat menarik investasi hijau, mengurangi risiko aset mangkrak akibat ketergantungan pada energi fosil, serta memposisikan Indonesia sebagai pemimpin teknologi energi bersih.

Ketiga, SNDC yang ambisius juga menjadi cerminan kepemimpinan global Indonesia. Sebagai ekonomi besar dan negara kepulauan, komitmen iklim Indonesia dapat menginspirasi negara-negara Selatan (Global South) untuk bertindak lebih berani.

Kritik terhadap Draf SNDC Saat Ini

Namun, Koordinator Kebijakan Iklim IESR, Delima Ramadhan, menyatakan bahwa draf SNDC Indonesia saat ini belum menunjukkan komitmen yang cukup untuk mencapai target Persetujuan Paris. Draf tersebut dinilai tidak ambisius dan hanya menargetkan pencapaian 2030 tanpa adanya perubahan signifikan pada kebijakan iklim nasional. Hal ini kontradiktif dengan hasil Globalstocktake pertama yang menuntut peningkatan target iklim 2030 secara signifikan.

Selain itu, upaya penurunan emisi masih banyak bergantung pada sektor penggunaan lahan dan kehutanan (LULUCF), sementara sektor energi dan industri kurang mendapat perhatian. Untuk sejalan dengan jalur 1,5 derajat Celcius, Indonesia perlu menetapkan target penurunan emisi bersyarat sebesar 850 juta ton setara karbon dioksida pada tahun 2030 dan turun menjadi 720 juta ton setara karbon dioksida pada tahun 2035, di luar sektor LULUCF.

Peran Internasional dan Dukungan untuk Indonesia

Sebagai negara berkembang, Indonesia membutuhkan bantuan teknis dan finansial untuk mencapai target tersebut. NDC yang ambisius bukan hanya tentang pengurangan emisi, tetapi juga bentuk perlindungan terhadap kemanusiaan. Krisis iklim menyebabkan ketidakadilan, di mana masyarakat di negara-negara berkembang dan tropis seperti Indonesia justru berkontribusi paling sedikit terhadap penurunan emisi, tetapi menderita paling besar akibat krisis iklim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *