Taman Syailendra Bertransformasi Menuju Agrowisata
Taman Syailendra, yang merupakan aset pemerintah kabupaten Wonosobo, terletak di kawasan dataran tinggi Dieng. Pengelolaan kawasan ini diberikan kepada Global Dharma Asri (GDA), sebuah perusahaan yang telah lama mengelola wisata di daerah tersebut. Selama ini, kawasan ini dikenal dengan penginapan berbentuk kabin dan panorama alam pegunungan yang menarik minat wisatawan.
Namun, dalam rencana pengembangan 2026, GDA memilih pendekatan yang berbeda. Alih-alih memperluas jumlah kabin atau membangun hotel baru, mereka justru memutuskan untuk mengembangkan sektor agrowisata berbasis kebun stroberi. Langkah ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pendapatan, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan di kawasan Dieng.
Direktur GDA, Sahlan, menjelaskan bahwa perhitungan usaha menunjukkan hasil yang lebih menjanjikan dibanding ekspansi penginapan. “Kemarin saya menambah 3 kabin saja butuh biaya kurang lebih Rp500 juta. Sementara itu, penanaman stroberi hanya butuh sekitar Rp150 juta. Pendapatannya lebih dua kali lipat dibanding kita kabin,” ujarnya.
Program wisata petik stroberi dimulai dengan uji coba penanaman 1.500 polybag. Respons pasar disebut melampaui ekspektasi. “Kita uji coba kemarin dengan 1.500 polybag, ternyata animo masyarakat wisatawan luar biasa,” kata Sahlan.
Perbedaan harga pun tidak menjadi hambatan. Di toko buah, stroberi dijual Rp40.000 per kilogram. Namun di lokasi wisata, harganya mencapai Rp100.000 per kilogram dan tetap diminati. Melihat tren tersebut, pengembangan diperluas hingga sekitar 5.000 polybag dengan konsep wisata yang lebih tertata.
“Kita kembangkan kurang lebih menjadi 5.000 polybag. Nah harapan kami nanti kita bikin sebuah wisata petik stroberi, kita kemas, kita desain,” terangnya.
Kawasan itu nantinya dilengkapi spot foto untuk menarik minat pengunjung, terutama keluarga dan pelajar. Selain hitung-hitungan bisnis, faktor lingkungan juga menjadi pertimbangan. Pembangunan kabin yang masif di dataran tinggi Dieng dinilai berpotensi mengurangi daya resap air.
“Kalau di dataran Dieng, semuanya akan dibangun kabin, otomatis nanti resapan airnya juga akan berkurang. Saya menjaga lingkungan di sana, makanya beralih,” lanjutnya.
Rencana pembangunan kabin ataupun hotel pun dialihkan menjadi penanaman stroberi di lahan kosong. Saat ini total kabin yang dikelola berjumlah 11 unit. Namun evaluasi usaha masih terus dilakukan untuk melihat potensi keuntungan jangka panjang antara kabin dan stroberi.
Kunjungan ke kebun stroberi disebut berlangsung hampir setiap hari, terutama dari kalangan pelajar. “Ternyata tiap hari hampir ada siswa SD SMP yang petik stroberi ke sana. Pas weekend ketika wisatawan berkunjung, alhamdulillah juga rame,” ungkapnya.
Jika uji coba pasca Lebaran berhasil, pengelola berencana menyewa lahan tambahan dalam skala hektare untuk memperluas kawasan wisata. “Jika berhasil, Taman Syailendra ini kita kembangkan untuk tempat wisata stroberi,” lanjutnya.
Targetnya, Taman Syailendra menjadi destinasi agrowisata stroberi yang dikenal luas di Dieng. “Sehingga nanti di Taman Syailendra bisa menjadi salah satu, istilahnya destinasi wisata yang terkait dengan perkebunan stroberi,” pungkasnya.