Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi, putri sulung dari Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan bahwa pembangunan wisata di Yogyakarta harus tetap berakar pada budaya lokal. Pernyataan ini disampaikan olehnya saat hadir dalam Musyawarah Kabupaten (Muskab) Kadin Gunungkidul yang digelar pada Senin, 9 Februari di Gunungkidul Yogyakarta. Ia mengungkapkan bahwa sering menerima masukan dari para investor yang ingin mengembangkan kawasan pesisir dan wisata Gunungkidul dengan nuansa mirip Bali.
- Banyak investor datang menyampaikan bahwa pembangunan wisata di Gunung Kidul mau dibuat seperti Bali, kata Mangkubumi.
Ia mengaku bahwa konsep tersebut tidak cocok untuk diterapkan di Yogyakarta. “Saya selalu menyampaikan (ke investor), ‘Kami adalah Jogja, bukan Bali’,” ujarnya.
Mempertahankan Identitas Lokal
Tidak tanpa alasan Mangkubumi menolak upaya menerapkan konsep wisata Pulau Dewata di Yogyakarta. Ia menekankan bahwa pariwisata justru menjadi upaya untuk mempertahankan identitas lokal di tengah derasnya arus investasi yang masuk ke wilayah tersebut.
- Jogja harus tetap berpijak pada jati dirinya sendiri dalam setiap proses pengembangan kawasan wisata. Karena itu yang akan menjadi ciri khas dan gerbang lestarinya nilai-nilai lokal.
Selain itu, Mangkubumi mengingatkan agar setiap pembangunan fisik kawasan wisata wajib mematuhi regulasi tata ruang yang berlaku. Termasuk aturan mengenai sepadan pantai jika yang dikembangkan kawasan pantai.
- Ia pun meminta kalangan pengusaha agar lebih selektif dalam memilih jenis industri wisata yang akan dikembangkan di Yogyakarta. Yakni dengan memprioritaskan investasi yang ramah lingkungan dan tidak merusak ekosistem alam Gunungkidul yang unik. Mengingat ekosistem karst menjadi ciri di sana.
Visi Pelestarian Lokalitas
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menuturkan visi pelestarian lokalitas di sektor pariwisata diharapkan memacu pertumbuhan ekonomi kawasan. Ia menuturkan bahwa sektor pariwisata di Gunungkidul selama ini telah menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) lebih dari Rp 8 miliar pertahunnya hanya melalui retribusi tiket saja.
- Sehingga yang jadi fokus kami terus berbenah memperbaiki infrastruktur, kata dia.
Pilihan Editor: Surga Buku di Desa Wisata Karangrejek