Membentuk Pemimpin Visioner dengan Mindset yang Tepat
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengajak para Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) untuk membekali diri dengan tiga jenis mindset, yaitu growth mindset, future mindset, dan innovation mindset. Ketiga hal ini menjadi kunci utama dalam menjadi pemimpin visioner yang mampu menjawab tantangan masa depan.
Growth mindset adalah keyakinan bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha dan pembelajaran berkelanjutan. Future mindset merujuk pada kemampuan untuk mengantisipasi perubahan dan mengambil keputusan berdasarkan proyeksi masa depan. Sementara itu, innovation mindset adalah sikap berani mencoba hal baru, merancang solusi untuk tantangan, serta tidak takut gagal.
Sebagai contoh, Sunardi Sinaga, alumni STPDN angkatan 07 yang kini menjabat sebagai Kepala Biro Humas Kemnaker, tidak pernah belajar ilmu humas sebelumnya. Namun, ia cepat belajar dan menguasai bidang tersebut. Hal serupa juga terjadi pada Pak Faried, Kepala Balai Besar Pelatihan Vokasi Medan, yang menjadi paham ilmu pelatihan vokasi karena bersedia belajar dan mengembangkan kompetensinya.
“Inilah bekal untuk adik-adik Praja semua sebagai kader pemimpin masa depan. Orang-orang sukses pasti memiliki mindset untuk berkembang, mindset melihat peluang ke depan, dan mindset melakukan perubahan,” ujar Yassierli saat memberikan kuliah umum kepada 3509 Praja IPDN di kampus IPDN Jatinangor Sumedang, Jawa Barat.
Investasi untuk Masa Depan
Sebagai generasi yang melek teknologi, kreatif, dan inovatif, Yassierli menekankan pentingnya Praja IPDN untuk aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang dapat mengasah kemampuan, memperluas wawasan, serta siap bersaing di pasar kerja global. Ia berharap Praja IPDN mempersiapkan diri menghadapi era digital dan menjadi agen perubahan, dengan fokus pada pengembangan soft skills dan hard skills sebagai investasi untuk masa depan individu dan bangsa.
Mengembangkan Kompetensi Lintas Bidang
Yassierli menekankan pentingnya Praja IPDN mengembangkan kompetensi lintas bidang, termasuk technical skill, cognitive skill, serta soft skill seperti kepemimpinan, komunikasi interpersonal, dan kerja sama tim. Setelah lulus, Praja akan bekerja melayani publik dan ditugaskan di seluruh Nusantara. Mereka harus ingat bahwa tugas sebagai pelayan publik membutuhkan kedekatan dengan masyarakat, mendengar aspirasi mereka, dan merencanakan program kerja yang efektif.
Peran Strategis Praja IPDN
Para Praja juga wajib memahami sektor ketenagakerjaan karena tugas kepamongan sangat bersentuhan langsung dengan masalah sosial. Mereka akan melihat masyarakat yang bekerja dan yang tidak bekerja. Oleh karena itu, Praja harus mencari solusi untuk masyarakat yang tidak bekerja, seperti akses pasar kerja hingga pelatihan kompetensi termasuk reskilling atau upskilling melalui Balai Latihan Kerja (BLK) yang dimiliki pemerintah atau lembaga pelatihan swasta.
Jika masyarakat bekerja dan memiliki penghasilan, maka ekonomi negara akan bertumbuh dan bangsa akan sejahtera. “Generasi muda, khususnya Praja IPDN memiliki peran sangat strategis dalam era digital dan membangun masa depan ketenagakerjaan Indonesia yang lebih baik,” ujar Yassierli.
Kolaborasi untuk Membangun Ekosistem Ketenagakerjaan
Yassierli menambahkan, bahwa menghadapi kompleksitas tantangan ketenagakerjaan ke depan, kolaborasi antara dunia akademis, industri, dan pemerintah sangat penting untuk membangun ekosistem ketenagakerjaan yang inklusif dan adaptif terhadap perubahan teknologi. “Kita harus terus memadukan teknologi dengan kearifan lokal, berinovasi, agar mampu menciptakan tenaga kerja yang kompeten, berdaya saing, dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa,” tuturnya.