Pertumbuhan Industri Jamu di Indonesia
Industri jamu di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang semakin menjanjikan. Meskipun sering dianggap sebagai warisan tradisi leluhur, jamu kini mulai mendapat perhatian dalam diskusi medis modern. Tren back to nature dan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pengobatan preventif membuat jamu semakin relevan.
Selain itu, perkembangan riset ilmiah dan uji klinis memberi peluang besar bagi jamu untuk masuk ke dalam sistem pelayanan kesehatan formal, berdampingan dengan obat-obatan farmasi. Namun, agar jamu dapat menjadi terapi yang sahih secara medis, diperlukan dukungan kuat dari riset, regulasi, hingga literasi tenaga kesehatan. Di sinilah peran pelaku industri, akademisi, dan pemerintah sangat penting.
Sido Muncul sebagai Pemimpin Pasar
PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul), salah satu perusahaan pemimpin pasar jamu di Indonesia, menunjukkan komitmennya melalui berbagai inisiatif. Kali ini, perusahaan yang dikenal dengan produk legendaris Tolak Angin tersebut menerima kunjungan kerja dari Komisi IX DPR RI di pabrik Sido Muncul di Kabupaten Semarang.
Rombongan DPR dipimpin oleh Dr. H. Edy Wuryanto, S.KP., M.Kep., bersama lima anggota dewan lainnya, serta perwakilan dari Kementerian Ketenagakerjaan RI, BPJS Ketenagakerjaan, dan jajaran Pemerintah Kabupaten Semarang. Dalam sambutan virtualnya dari House of Jamu, Cipete, Jakarta, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, Direktur Sido Muncul, menjelaskan prinsip yang selalu ia pegang sekaligus memaparkan kondisi industri jamu di Indonesia.
Ia menyebut jumlah pabrik jamu mencapai 1.600, atau delapan kali lebih banyak dibanding pabrik farmasi, namun ukuran pasarnya masih jauh lebih kecil. Dengan dukungan lebih dari 5.000 karyawan, Irwan menekankan bahwa kesejahteraan pekerja merupakan prioritas utama perusahaan.
“Kalau karyawannya bahagia menurut saya produktivitasnya tercapai. Di sisi lain kalau produktivitasnya tercapai tapi mereka tidak bahagia, bagi saya itu kurang baik,” ujar Irwan.
Jamu sebagai Obat Andalan
Dalam kesempatan ini, Irwan menegaskan bahwa jamu bukan untuk menggantikan obat farmasi, melainkan berjalan berdampingan. Ia menilai bahwa obat-obatan farmasi tetap penting, sementara jamu hadir sebagai pendukung.
“Menurut saya obat-obatan itu bukan digantikan, tapi bisa juga saling mendampingi. Obat farmasi itu tentu penting, dan jamu hadir sebagai pendukung,” jelas Irwan. Ia kemudian mengaitkan hal ini dengan dunia medis dengan memanfaatkan sumber daya dokter di Indonesia yang sudah ada.
“Menurut saya enggak perlu ada profesi baru seperti di Tiongkok yang punya traditional Chinese doctor. Dokter yang ada saja, tapi dia paham tentang jamu. Itu lebih efisien dan pasti lebih pintar. Dokter itu mendiagnosis penyakit. Tinggal kalau dia tahu ada obat farmasi sama obat jamu, dia bisa mengombinasikan,” tambahnya.
Literasi di Kalangan Tenaga Medis
Untuk mewujudkan jamu sebagai salah satu pengobatan, Sido Muncul aktif membangun literasi di kalangan tenaga medis. “Saya sudah 53 kali pergi ke fakultas kedokteran untuk memperkenalkan riset-riset herbal. Kami buat ringkasan literatur, lalu dibagikan ke dokter-dokter supaya bisa belajar. Bahwa riset obat-obat herbal itu sudah ada, banyak sekali yang dilakukan,” ujar Irwan.
Produk Tunggal dengan Standar Global
Terkait produk Sido Muncul, Irwan menjelaskan perbedaan pendekatannya terhadap fitofarmaka. “Produk Sido Muncul itu produk tunggal, bukan fitofarmaka. Yang penting produknya aman, berkhasiat, dan terstandar. Kami melakukan uji toksisitas, uji khasiat, dan standarisasi.”
Irwan menegaskan bahwa pabrik Sido Muncul dibuat memenuhi standar agar bisa memproduksi produk terbaik untuk digunakan di kalangan tenaga medis. Di hadapan anggota dewan, ia menyampaikan harapan agar pemerintah mendukung penelitian bahan baku jamu.
“Sekarang BPOM hanya mengizinkan sekitar 350 jenis tanaman obat. Padahal jumlahnya ada 28.000. Kalau setiap tahun bisa diteliti 50 bahan lewat uji toksisitas, dalam 10 tahun akan bertambah 500 lagi. Uji toksisitas penting dan tidak mahal, sekitar Rp200 juta per bahan. Dengan begitu, bahan-bahan baru bisa digunakan secara legal.”
Apresiasi dari Komisi IX DPR RI
Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto selaku ketua tim kunjungan menyampaikan apresiasinya setelah meninjau langsung proses produksi di pabrik Sido Muncul. “Saya sangat senang hari ini bisa keliling melihat langsung produksi Tolak Angin Sido Muncul dan saya sangat terkesan teknologi yang digunakan, kebersihan proses produksinya, serta karyawan-karyawannya. Produksi Tolak Angin bisa rata-rata 4 juta sachet per hari. Itu sangat luar biasa,” ujar Edi.
Edi juga mengingat pengalamannya saat di luar negeri ketika menemukan Tolak Angin di toko-toko kecil, membuktikan bahwa produk legendaris itu telah mendunia. “Kami berharap ke depan, obat-obat tradisional, termasuk fitofarmaka, bisa bersanding dengan obat-obatan kimia. Sehingga mulai dari puskesmas, FKTP, sampai rumah sakit diharapkan produk-produk jamu bisa menjadi salah satu terapi alternatif di Indonesia,” ujar Edi.
Integrasi Jamu dengan Pariwisata Kesehatan
Terkait dengan komitmen Sido Muncul, Komisi IX menyoroti peluang integrasi jamu dengan pariwisata kesehatan. “Kalau Pak Irwan bisa mengelaborasi antara jamu tradisional, lalu dengan hospital yang berbasis lingkungan di Kabupaten Semarang, nantinya dapat memberikan Kabupaten Semarang keunggulan di bidang medical tourism,” tutup Edy.