Pentingnya Paradigma Pembelajaran Mendalam dalam Pengembangan Kurikulum
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menekankan pentingnya paradigma pembelajaran mendalam (deep learning) sebagai salah satu pilar utama dalam pengembangan kurikulum pendidikan. Hal ini disampaikan dalam Lokakarya Peningkatan Kompetensi Pengembang Kurikulum Tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota yang berlangsung di Jakarta pada 21–24 September 2025.
Lokakarya ini dibuka oleh Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Toni Toharudin. Dalam pidatonya, ia menyatakan bahwa pengembang kurikulum merupakan fondasi utama keberhasilan sistem pendidikan nasional. Ia menjelaskan bahwa pengembangan kurikulum menjadi kunci agar pendidikan mampu menjawab tantangan zaman sekaligus membentuk generasi yang berkarakter.
Menurut Toni, paradigma pembelajaran mendalam menjadi arah penting kebijakan kurikulum saat ini. Pendekatan tersebut tidak hanya berorientasi pada hasil akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan kemampuan berkolaborasi. “Paradigma ini harus benar-benar hadir di ruang kelas melalui pengalaman belajar yang bermakna,” ujarnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, BSKAP memperkuat kolaborasi antara pusat dan daerah. Salah satunya dengan mengembangkan sistem informasi kurikulum interaktif yang memungkinkan komunikasi lebih cepat dan mudah antara para pemangku kepentingan pendidikan. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat proses penyesuaian dan implementasi kurikulum di berbagai daerah.
Fokus pada Muatan Lokal
Selain menekankan pentingnya pembelajaran mendalam, lokakarya juga fokus pada penguatan muatan lokal. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang menempatkan muatan lokal sebagai sarana memperkuat identitas sekaligus potensi wilayah. “Muatan lokal bukan sekadar tambahan, melainkan jembatan agar siswa memahami budayanya sekaligus terbuka pada dunia global,” kata Toni.
Lokakarya selama 32 jam pelajaran ini mengusung metode interaktif dan partisipatif. Materi yang dibahas mencakup kebijakan kurikulum PAUD, dasar, dan menengah; paradigma pembelajaran mendalam; diversifikasi kurikulum satuan pendidikan; serta strategi penguatan kurikulum muatan lokal.
Peran Pengembang Kurikulum
Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Laksmi Dewi, menambahkan bahwa kegiatan ini diharapkan melahirkan rancangan kurikulum muatan lokal yang sesuai dengan rambu-rambu nasional sekaligus menjawab kebutuhan riil di daerah. “Kami ingin memastikan bahwa pembelajaran mendalam bukan sekadar wacana, tetapi dapat diintegrasikan dalam kurikulum di tingkat daerah,” ujarnya.
Lokakarya diikuti oleh 66 tim pengembang kurikulum dari 27 provinsi dan 39 kabupaten/kota. Para peserta sebelumnya telah mendapatkan materi pendahuluan melalui sistem Learning Management System (LMS), sehingga diskusi langsung dapat difokuskan pada praktik dan penyusunan strategi.
Tanggapan Peserta Lokakarya
Guru SDN Bokaka, Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara, Rama Shinta Dewi Kartiman, menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan ini. Ia menyebut lokakarya menjadi ruang belajar bersama yang selaras dengan konsep pembelajaran mendalam. “Kami berencana mengembangkan muatan lokal yang melestarikan budaya daerah sekaligus membekali siswa dengan keterampilan khas wilayah kami,” ungkapnya.
Rama juga menyinggung tantangan yang dihadapi di daerahnya, yakni belum adanya keseragaman dalam muatan lokal. Banyak sekolah, katanya, masih menentukan sendiri program muatan lokal sesuai dengan kondisi masing-masing. Situasi ini dinilainya perlu mendapat pendampingan agar muatan lokal tetap terarah dan berkualitas.
Inisiatif dari Papua Tengah
Sementara itu, Leonardus O. Magai, anggota pengembang kurikulum dari Papua Tengah, menyoroti isu kesehatan sebagai muatan lokal. Ia menyampaikan, pihaknya tengah mengembangkan materi pencegahan HIV/AIDS dalam kurikulum, mengingat prevalensi HIV di wilayahnya cukup tinggi, mencapai sekitar lima persen. “Kami ingin agar materi ini bisa diajarkan sejak kelas 1 SD, dengan bahasa yang sesuai usia,” katanya.
Leonardus berharap dukungan dari Puskurjar agar materi muatan lokal tersebut dapat masuk ke dalam rapor dan ijazah. Dengan demikian, pembelajaran yang mendalam tidak hanya berbicara pada aspek akademik, tetapi juga pada kebutuhan sosial yang mendesak di tiap daerah.
Harapan Masa Depan
Dengan paradigma pembelajaran mendalam yang semakin ditekankan, Kemendikdasmen berharap arah pengembangan kurikulum Indonesia akan semakin relevan. Harapannya, kurikulum tidak hanya menjadi dokumen formal, tetapi benar-benar menjadi panduan yang membentuk generasi kritis, berkarakter, dan mampu menghadapi tantangan global tanpa meninggalkan akar budaya lokal.