Perusahaan Tekstil Asia Pacific Fibers PHK Karyawan di Pabrik Kimia dan Serat Cikarang

Perusahaan Tekstil Mengumumkan PHK untuk Karyawan di Pabrik Karawang

Corporate Secretary PT Asia Pacific Fibers Tbk, Tunaryo, mengungkapkan bahwa manajemen perusahaan telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan di pabrik kimia dan serat yang berada di Karawang, Jawa Barat. Sebelumnya, pabrik tersebut sempat ditutup sementara, dan saat ini sedang dipertimbangkan untuk ditutup secara permanen.

Tunaryo menyatakan bahwa sebagian besar karyawan yang diberhentikan adalah dari kelompok non-core atau bukan bagian dari lini bisnis utama perusahaan. Meski demikian, dia tidak merinci jumlah pasti dari pegawai yang terkena dampak PHK. Dalam pernyataan resmi di Bursa Efek Indonesia, ia menjelaskan bahwa “Perseroan telah melakukan PHK atas sebagian besar karyawan pabrik Karawang, mayoritas termasuk dalam kelompok non-core.”

Dalam laporan tahunan perusahaan tekstil dengan kode saham POLY pada 2024, disebutkan bahwa perseroan telah melakukan PHK kepada 1.802 karyawan di pabrik Karawang dan Semarang. Pada waktu itu, operasional pabrik polyester dan fiber di Karawang dihentikan sementara sejak November 2024. Akibatnya, operasional pabrik benang filamen di Semarang mengalami penurunan dan kini hanya beroperasi pada kapasitas 30 persen.

Pada tahun 2024, penjualan POLY mengalami penurunan sebesar 34,10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini tercatat dari US$ 288,55 juta menjadi US$ 190,15 juta atau sekitar Rp 1,3 triliun. Penurunan pendapatan terjadi baik di pasar domestik maupun internasional, masing-masing sebesar 35,53 persen dan 25,83 persen.

Di kuartal I 2025, POLY mencatatkan pendapatan sebesar US$ 12,17 juta atau setara Rp 198 miliar. Angka ini lebih rendah dibandingkan pendapatan pada periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 64,9 juta atau sekitar Rp 1,06 triliun. Selain itu, pada Januari-Maret 2025, perusahaan membukukan rugi sebesar US$ 1,45 juta atau Rp 23,6 miliar, dibandingkan laba sebesar US$ 687.629 atau Rp 11 miliar pada tahun sebelumnya.

Upaya Restrukturisasi dan Pengembangan Bisnis

Tunaryo juga menyampaikan bahwa perseroan telah mengajukan proposal restrukturisasi yang melibatkan investor baru untuk memberikan modal kerja. Tujuan dari langkah ini adalah untuk memperbarui mesin-mesin perusahaan agar produk yang dihasilkan lebih berkualitas dan kompetitif di pasar.

Ia menegaskan bahwa pabrik di Karawang masih memiliki potensi untuk dihidupkan kembali. Namun, pengoperasian kembali pabrik tersebut akan dilakukan jika tetap berada dalam koridor industri tekstil atau fokus pada peningkatan kapasitas dan utilisasi pabrik di Kaliwungu, Kendal.

Jika pabrik Karawang ditutup secara permanen, maka akan berdampak pada penurunan penjualan produk seperti polyester staple fiber, polyester chips, dan performance fabrics. Manajemen memproyeksikan penurunan penjualan sebesar 76 persen pada 2025 dibandingkan tahun 2024. Namun, mereka tetap mempertimbangkan kemungkinan pembukaan kembali pabrik tersebut jika proposal restrukturisasi utang disetujui oleh para kreditur.

Tantangan Lingkungan Bisnis

Sebelumnya, manajemen POLY menyatakan bahwa lingkungan bisnis perusahaan saat ini sedang tidak stabil, baik di tingkat global maupun nasional. Mereka akan mendeklarasikan penutupan permanen unit produksi dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk merevisi proyeksi bisnisnya berdasarkan operasi pabrik Kaliwungu-Kendal di masa depan.

Lingkungan bisnis yang tidak kondusif disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kelebihan kapasitas global, kenaikan tarif ekspor ke Amerika Serikat, serta harga bahan baku yang tinggi. Di dalam negeri, POLY juga menghadapi tantangan dari kebijakan penerapan bea anti-dumping dan revisi peraturan impor yang belum sepenuhnya sesuai harapan industri. Ketidakjelasan dalam penerapan bea anti-dumping dan revisi aturan impor menyebabkan lesunya permintaan produk industri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *