Tantangan dan Peluang Pertumbuhan Kredit UMKM di Tengah Ketidakpastian Global
Pertumbuhan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang diperkirakan mencapai kisaran 7%—9% secara tahunan (year on year/YoY) pada tahun ini dinilai normal meskipun menghadapi berbagai tantangan. Hal ini terjadi di tengah situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang turut memengaruhi perekonomian nasional.
CEO dan Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA), Lani Darmawan, menyatakan bahwa target pertumbuhan kredit UMKM perusahaan sesuai dengan arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). “Kami menargetkan pertumbuhan kredit UMKM sebesar 7%—9% YoY pada tahun ini,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (11/3/2026).
Meski demikian, Lani mengakui bahwa penyaluran kredit UMKM masih menghadapi tantangan. Selain daya beli masyarakat yang masih lesu, ketidakpastian akibat konflik di kawasan Timur Tengah juga turut memengaruhi permintaan kredit. Hal serupa disampaikan oleh Ganda Raharja, Direktur PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI). Ia menilai bahwa penyaluran kredit perbankan secara umum masih menantang pada awal 2026 karena tekanan ekonomi nasional yang dipicu oleh eskalasi geopolitik di kawasan tersebut.
“Permintaan kredit UMKM belum menunjukkan peningkatan signifikan hingga saat ini,” kata Ganda kepada Bisnis, Rabu (11/3/2026). Allobank sendiri secara konservatif menargetkan pertumbuhan kredit yang sama seperti tahun 2025, sesuai dengan Rencana Bisnis Bank 2026 yang dibuat di akhir 2025.
Di tengah kondisi ini, Ganda menilai bahwa dukungan pemerintah dan kepastian hukum menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan kredit UMKM. Perseroan juga tetap fokus pada penyaluran kredit melalui skema supply chain financing.
Sementara itu, Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, menyoroti bahwa proyeksi pertumbuhan kredit UMKM dari OJK tidak otomatis membuat target pertumbuhan kredit nasional lebih tinggi dari proyeksi Bank Indonesia (BI) sebesar 8%—12% YoY pada tahun ini. “Karena porsi kredit UMKM terhadap total kredit belum dominan,” jelasnya kepada Bisnis, Rabu (11/3/2026).
Menurut Trioksa, jika UMKM tumbuh minimal 7%, maka pertumbuhan ekonomi sebesar 5% sudah dianggap bagus. Ia menekankan pentingnya akselerasi untuk mencapai target pertumbuhan kredit UMKM tahun ini.
Untuk diketahui, OJK memperkirakan bahwa penyaluran kredit kepada UMKM akan tumbuh di rentang 7%—9% YoY pada tahun ini. Proyeksi ini didukung oleh meningkatnya keyakinan konsumen, prospek pertumbuhan ekonomi nasional, serta penguatan kebijakan pembiayaan UMKM yang terus didorong oleh OJK bersama pemerintah.
Dalam keterangannya, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyampaikan bahwa proyeksi tersebut didasarkan pada tren positif yang tercatat dalam beberapa bulan terakhir. Ia menjelaskan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada awal 2026 berada di level positif 127,00%, sementara Consumer Price Index (CPI) tercatat 109,75%.
Dian menegaskan bahwa kedua indikator ini menunjukkan tren peningkatan dalam setahun terakhir, yang mencerminkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ke depan. Di tengah tantangan jangka pendek, industri perbankan tetap optimistis terhadap pertumbuhan kredit UMKM pada 2026 yang diproyeksikan mencapai 7%—9% YoY.