Fenomena Rojali Menggemparkan Pusat Perbelanjaan, Tanda Kekuatan Pasar yang Menurun

Fenomena Rojali yang Menggemparkan Pusat Perbelanjaan

Fenomena rojali, atau kebiasaan orang-orang datang ke pusat perbelanjaan hanya untuk melihat-lihat tanpa melakukan pembelian, kini semakin marak. Hal ini terjadi akibat menurunnya daya beli masyarakat, terutama di kalangan kelas menengah ke bawah. Fenomena ini tidak lagi asing bagi pengusaha ritel dan pusat perbelanjaan, namun intensitasnya kini meningkat tajam.

Pengaruh pada Omzet Pusat Perbelanjaan

Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menyebutkan bahwa penurunan omzet di pusat perbelanjaan memang terjadi. Menurut Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja, hal ini disebabkan oleh fakta bahwa konsumen lebih cenderung memilih produk dengan harga murah. Ia menjelaskan bahwa industri pusat perbelanjaan di Indonesia didominasi oleh masyarakat kelas menengah ke bawah, yang jumlahnya mencapai 95%. Karena daya beli mereka menurun, banyak dari mereka datang ke pusat perbelanjaan tetapi tidak membeli apa pun.

Perubahan Pola Belanja Konsumen

Data APPBI menunjukkan bahwa jumlah kunjungan ke pusat perbelanjaan mengalami peningkatan, meski tidak signifikan. Jumlah tersebut jauh di bawah target yang diharapkan, yaitu antara 20% hingga 30%. Namun, ada perubahan dalam pola belanja konsumen. Mereka kini lebih selektif dan hanya membeli produk dengan harga rendah. Selain itu, tren berbelanja online juga turut memengaruhi perilaku masyarakat. Ketua Umum Hippindo Budihardjo mengatakan bahwa sejak pandemi, banyak orang lebih memilih berbelanja secara online.

Meski demikian, tidak semua sektor mengalami penurunan. Sektor bisnis makanan dan minuman (F&B) justru mengalami peningkatan. Alasannya, banyak rojali datang ke mal untuk berkumpul bersama keluarga dan menghabiskan waktu di restoran. Hal ini membuat penjualan F&B meningkat sebesar 5% hingga 10%.

Daya Beli yang Lemah dan Pengaruh Ekonomi

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk., David Sumual, menyebutkan bahwa data BCA menunjukkan adanya penurunan belanja masyarakat hingga kuartal II/2025. Penurunan daya beli ini membuat banyak orang hanya berkunjung ke pusat perbelanjaan tanpa melakukan pembelian. Menurut David, lemahnya konsumsi kelas menengah, yang berkontribusi sekitar 70% terhadap total konsumsi RI, berdampak luas terhadap perekonomian nasional.

Masyarakat saat ini cenderung lebih hati-hati dalam berbelanja, terutama untuk barang mahal. Banyak dari mereka lebih memilih menjaga asetnya melalui instrumen investasi seperti deposito, saham, obligasi, atau emas. Fenomena ini mirip dengan situasi pada krisis moneter 1998, ketika daya beli masyarakat melemah.

Rojali Tidak Cerminkan Tingkat Kemiskinan

Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan bahwa fenomena rojali tidak langsung mencerminkan tingkat kemiskinan. Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Ateng Hartono menjelaskan bahwa masyarakat yang masuk dalam kategori rojali memang memiliki daya beli yang menurun. Namun, hal ini tidak otomatis berdampak pada angka kemiskinan karena dampaknya hanya terasa pada kelompok atas.

Ateng menekankan bahwa fenomena rojali menjadi sinyal penting bagi pembuat kebijakan. Meskipun rojali tidak langsung mencerminkan kemiskinan, kondisi ini menunjukkan tekanan ekonomi yang dialami masyarakat, terutama di kelas menengah. Oleh karena itu, diperlukan data lebih lanjut untuk memahami apakah fenomena ini terjadi pada kelas atas, menengah, atau bahkan bawah.

Dalam catatan BPS, angka penduduk miskin mencapai 23,85 juta orang atau 8,47% dari total populasi per September 2024. Angka ini menjadi yang terendah dalam sejarah Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *