Rupiah melemah sepekan, data tenaga kerja AS dan risiko global mengancam

Rupiah Terus Melemah Akibat Tekanan Global

Rupiah tercatat mengalami pelemahan selama sepekan terakhir. Pada perdagangan Jumat (9/1/2026), kurs rupiah pasar spot ditutup melemah sebesar 0,13% menjadi Rp16.819 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah spot mengalami penurunan sebesar 0,55% dibandingkan posisi akhir pekan lalu yang berada di Rp16.725 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga mengalami pelemahan sebesar 0,20%, yaitu dari posisi sebelumnya Rp16.801 per dolar AS menjadi Rp16.834 per dolar AS pada Kamis (8/1/2026).

Menurut Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, pelemahan rupiah ini sejalan dengan depresiasi mata uang Asia lainnya. Hal ini disebabkan oleh penguatan dolar AS akibat sentimen pengetatan data tenaga kerja Amerika Serikat dan sikap hati-hati investor menjelang rilis data ketenagakerjaan utama.

“Bersamaan dengan mata uang Asia lainnya, rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS akibat dari sentimen pengetatan data tenaga kerja AS,” jelas Josua.

Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah

Selain tekanan dari dolar AS, rupiah juga menghadapi tekanan dari meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Asia, khususnya antara Jepang dan Tiongkok. Selain itu, kekhawatiran pasar terhadap defisit fiskal domestik juga turut memengaruhi stabilitas rupiah.

Investor juga masih menantikan hasil pengadilan terkait status kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump yang berpotensi memengaruhi sentimen global. Perkembangan ini dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed serta pergerakan dolar AS secara keseluruhan.

Prediksi Pergerakan Rupiah Pekan Depan

Memasuki pekan depan, Josua memperkirakan bahwa rupiah masih berisiko menghadapi tekanan seiring berlanjutnya ketidakpastian global dan potensi penguatan data tenaga kerja AS. Ia memprediksi bahwa rupiah akan bergerak dalam rentang Rp16.775 hingga Rp16.875 per dolar AS pada pekan depan.

Pergerakan rupiah selanjutnya sangat bergantung pada rilis tingkat pengangguran dan non-farm payrolls (NFP) AS. Data tersebut dapat mempengaruhi ekspektasi arah kebijakan suku bunga The Fed serta pergerakan dolar AS secara global.

Berbagai Faktor yang Mempengaruhi Rupiah

Beberapa faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah antara lain:

  • Penguatan dolar AS: Menjadi salah satu penyebab utama pelemahan rupiah.
  • Data tenaga kerja AS: Sentimen pengetatan data tenaga kerja AS memengaruhi sentimen pasar.
  • Tensi geopolitik: Khususnya antara Jepang dan Tiongkok, yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi regional.
  • Defisit fiskal domestik: Keuntungan atau kekurangan anggaran pemerintah berdampak pada keyakinan investor.
  • Kebijakan tarif AS: Status kebijakan tarif Presiden Donald Trump dapat memengaruhi sentimen global.

Dengan berbagai faktor tersebut, rupiah akan terus menghadapi tantangan dalam menghadapi fluktuasi pasar global. Investor dan pelaku bisnis harus tetap waspada terhadap perkembangan ekonomi internasional dan nasional untuk menentukan strategi investasi yang tepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *